kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Menang tanpa ngasorake


Senin, 15 Oktober 2018 / 17:48 WIB

Menang tanpa ngasorake
ILUSTRASI. Pengamat & Kolomnis Ekuslie

Saat ini, menjelang hajatan Pemilu 2019, paling seru melihat perilaku kampanye para politisi. Setelah pasangan bakal calon presiden dan calon wakil presiden ditetapkan, peta persaingan jadi terbuka jelas.

Kontestasi pemilihan presiden tahun 2019, tak lain tak bukan adalah babak ulangan dari kontestasi serupa di tahun 2014, yang mempertemukan dua tokoh nasional, yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Kedua tokoh tersebut akan bersaing kembali untuk merebut hati dan kepercayaan rakyat, yang akan menabalkan salah satu dari mereka sebagai pemimpin puncak negeri ini.

Dengan sangat menyejukkan, beberapa tokoh bangsa menggambarkan kontestasi ini lebih sebagai sebuah “perlombaan” daripada “pertandingan”.

Sekilas kedua ajang ini tampak sama, namun sesungguhnya berbeda. Olahraga semacam “lari” diperlombakan, bukannya dipertandingkan. Sebaliknya olah-raga semisal “tinju” dipertandingkan, bukannya diperlombakan.

Mengapa? Di ajang kompetisi lari, orang beradu teknik dan kecepatan, untuk mengungguli pesaing-pesaing lainnya. Pemenangnya hadir sebagai juara, karena berlari jauh lebih cepat dan unggul daripada yang lainnya.

Sementara di ajang kompetisi tinju, orang beradu taktik dan kekuatan, untuk menaklukkan lawan tandingnya. Syukur-syukur, lawannya bisa jatuh terkapar dan tak bisa melanjutkan pertandingan.

Jika demikian halnya, ia akan memenangkan pertandingan dengan atribut “menang KO alias Knock Out”, sebuah kemenangan yang sangat membanggakan bagi para petinju.

Namun, kompetisi tetaplah kompetisi. Semua pihak ingin menang, unggul, sukses, dan itu sah-sah saja. Justru kita akan heran kalau ada yang bercita-cita untuk kalah, tergusur dan gagal.

Persoalannya, apakah kita memang benar-benar ingin menang dalam paradigma yang tepat, atau kita terjebak untuk sekadar menang-menangan?

Shiv Khera dalam buku klasiknya yang berjudul You Can Win (1998), berujar, “Winning is an event, and winner is a spirit”. Khera mengajak orang untuk memiliki watak seorang pemenang, daripada sekadar memiliki peristiwa kemenangan.

Obsesi yang berlebihan terhadap peristiwa kemenangan membuat orang sering terjebak bersikap dan bertindak menang-menangan.

Karena nafsu menang, pihak yang tidak mendapatkan dukungan objektif dari publik, terbiasa untuk melakukan kampanye hitam terhadap pihak lawannya. Alih-alih berkompetisi secara sehat menunjukkan kehebatan dan prestasi diri, malah justru tergoda melakukan manipulasi  dan menjatuhkan pesaingnya.


Reporter: Tabloid Kontan
Editor: Mesti Sinaga


×