kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Menang tanpa ngasorake


Senin, 15 Oktober 2018 / 17:48 WIB
Menang tanpa ngasorake
ILUSTRASI. Pengamat & Kolomnis Ekuslie

Reporter: Tabloid Kontan | Editor: Mesti Sinaga

Pentingnya integritas

Paling tidak, ada tiga hal yang membedakan antara menang-menangan dan menang dalam pengertian yang sesungguhnya.

Pertama, menang-menangan berorientasi pada hasil akhir, dan tidak peduli dengan etika proses yang ditempuh. Mahkota kemenangan jauh lebih penting dari keringat dan air mata perjuangan.

Menang-menangan adalah praktik yang menjunjung tinggi semangat Machiavellian, yakni tujuan menghalalkan cara.  

Kedua, menang-menangan berorientasi pada keunggulan persaingan semata, dan tak peduli dengan respek dan pengakuan pihak lain. Bisa jadi, secara hitam di atas putih, yang bersangkutan tercatat sebagai pemenang, namun sesungguhnya tak pernah mendapatkan pengakuan dari publik secara luas.

Dengan kata lain, kemenangannya tercatat legal, namun sesungguhnya tak legitimate.  

Ketiga, menang-menangan fokus kepada kebanggaan menjadi nomor satu, dan tak peduli dengan kehormatan diri. Bagi orang yang terbiasa menang-menangan, menjadi nomor satu adalah keharusan, sekalipun musti menggadaikan kehormatan diri.

Inilah satu sikap yang menggiring seseorang terperangkap dalam praktik premanisme, yang mengandalkan kekuatan fisik, aksi kekerasan dan pamer senjata destruktif.

Sikap menang secara terhormat pertama-tama tidak akan memfokuskan diri pada peristiwa kemenangan (the event of winning), tetapi pada semangat seorang pemenang (the spirit of a winner). Itulah kemenangan dalam pengertian yang sejati.

Shiev Khera menegaskan bahwa seorang pemenang sejati akan berusaha meraih kemenangannya dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai etika dan kemanusiaan.  “It’s better to deserve an honor and not have it than to have it and not deserve it”

Bahkan, Vincent Lombardi (1913–1970), seorang coach sepakbola Amerika yang begitu terkenal haus kemenangan, dalam bukunya berjudul What it Takes to be Number 1 (2001), tetap menjadikan integritas sebagai dasar bagi model kepemimpinan untuk membentuk tim yang unggul.

Dalam pepatah Jawa, menang yang sejati ibarat “menang tanpa ngasorake”. Seseorang hadir sebagai pemenang, bukan karena ia telah merendahkan dan mengalahkan lawannya.

Sebaliknya, pihak lawan dengan jujur mengakui bahwa yang bersangkutan memang lebih unggul dan hebat dari dirinya.                    ◆




TERBARU

×