kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45972,21   -0,45   -0.05%
  • EMAS926.000 -0,22%
  • RD.SAHAM -0.19%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%
KOLOM /

Meneropong dan Memanfaatkan Tatanan Dunia Multipolar Baru


Sabtu, 16 Januari 2021 / 08:38 WIB
Meneropong dan Memanfaatkan Tatanan Dunia Multipolar Baru
ILUSTRASI. Dato Sri Tahir - CEO Mayapada Group. Foto Dok. Pribadi

Reporter: Yuwono Triatmodjo | Editor: Yuwono triatmojo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah Perang Dunia II, kita menikmati Pax Americana, yaitu masa pembangunan dan perdamaian dengan Amerika Serikat (AS) sebagai negara adidayanya.

Sebelum pandemi, belum ada pihak memiliki hard dan soft power yang sebanding dengan AS. Tapi, pandemi Covid-19 adalah kejadian angsa hitam (Black Swan) yang berakibat kompleks dan memutarbalikkan definisi normal dan deviasi.

Dominasi teknologi tinggi, keistimewaan AS di masa normal, terlihat bukan lagi suatu kelebihan. AS dan Uni Eropa tampak kewalahan mengatasi pandemi. Di sisi lain, penduduk RRT (Republik Rakyat Tiongkok) terlihat sudah kembali hidup normal dan kegiatan ekonominya menggeliat pesat.

Tatanan multipolar baru yang di dominasi 3 pihak—AS, Uni Eropa, dan RRT—akan tiba dengan cepat, dan Indonesia harus siap mengambil manfaat.

Makro-mikro AS: kesenjangan, polarisasi, dan ketidakstabilan

Dominasi kekuatan teknologi dan sistem kapitalisme, membuat AS menguasai segmen high-tech dan high value-added. Korporasi-korporasi raksasa (FANGAM: Facebook, Amazon, Netflix, Google, Apple, Microsoft), tumbuh subur melahirkan kelompok elittechno oligarch, seperti Jeff Bezos dan Elon Musk. Pada tahun 2019, pendapatan tahunan korporasi-korporasi terbesar diperkirakan mencapai USD 14 triliun, dan PDB AS selalu tertinggi selama beberapa dekade terakhir ini.

Dibalik kesuksesan tingkat makro, yaitu dominasi teknologi tinggi dan bobot ekonomi AS, utang kumulatif AS mencapai USD 27 triliun, yaitu sekitar 120% dari PDB-nya. Pemegang surat utang AS terbesar adalah Jepang dan RRT, diikuti gabungan negara-negara Uni Eropa.

Pada tingkat meso dan mikronya, kesenjangan membesar. Jarak ketertinggalan korporasi kecil dan penduduk miskin semakin besar.

Penduduk di sentra-sentra industri high-tech cenderung lebih kaya dan berorientasi demokrat. Sedangkan penduduk di sentra-sentra industri riil, seperti pedalaman Indiana dan Ohio, cenderung semakin miskin dan berorientasi republikan.

Di sisi lain, FANGAM cenderung berbasis servis digital, dan sektor riil AS semakin termarginalkan. Sebagai contoh produk-produk Apple; desain di Amerika, tapi proses produksi dilaksanakan di negara lain. Kecenderungan ini telah menjadi sumber kelemahan.




TERBARU

[X]
×