kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45941,11   -24,03   -2.49%
  • EMAS929.000 -0,11%
  • RD.SAHAM 0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.15%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.20%
KOLOM /

Meneropong dan Memanfaatkan Tatanan Dunia Multipolar Baru


Sabtu, 16 Januari 2021 / 08:38 WIB
Meneropong dan Memanfaatkan Tatanan Dunia Multipolar Baru
ILUSTRASI. Dato Sri Tahir - CEO Mayapada Group. Foto Dok. Pribadi

Reporter: Yuwono Triatmodjo | Editor: Yuwono triatmojo

Sebelum pandemi, jika kita lihat proporsi PDB AS, Uni Eropa, dan RRT terhadap PDB dunia, terlihat proporsi AS dan Uni Eropa ada kecenderungan untuk stagnan-turun, sedangkan RRT terlihat naik.

Pandemi sepertinya juga akan mempercepat turunnya bobot PDB AS dan Uni Eropa, membuka celah RRT untuk naik. Jika kali ini RRT mampu menghimpun tidak hanya hard power tapi juga soft power, maka tatanan dunia multipolar baru akan segera menjadi kenyataan.

Strategi Indonesia pada multipolar baru

Pada skenario multipolar ini, Indonesia mempunyai modal besar, sehingga Indonesia tidak hanya akan bangkit dari pandemi, tapi juga bisa mengambil keuntungan dari pergeseran konstelasi AS, Uni Eropa, dan RRT.

Pertama, Pancasila dan konstitusi memberi landasan kuat orientasi politik bebas aktif dan peran menjaga perdamaian dunia. Kedua, sebagai negara demokratis dengan lokasi strategis di kawasan Indo Pasifik, Indonesia bisa menjadi elemen penstabil yang kuat.

Pergeseran konstelasi akan mempertajam rivalitas kekuatan AS dan RRT di kawasan ASEAN. Politik luar negeri AS sudah mempersiapkan ini sejak Hillary Clinton menjabat sebagai menteri luar negeri dengan diplomasi “Pivot to Asia” nya.

Formasi Quad Group yang terdiri dari Jepang, India, dan Australia, akan terus mendukung kepentingan AS dan meredam pengaruh RRT. Situasi di Laut China Selatan (LCS), yang dilewati 60% perdagangan jalur maritim juga akan memanas.

Negara kecil dengan kecenderungan aliansi AS, seperti Filipina, bisa dipergunakan AS untuk memantik destabilisasi kawasan LCS yang berpotensi mengganggu alur perdagangan RRT. RRT pun, tidak akan segan mempertahankan kepentingannya.

Saat ini negara aliansi RRT cenderung berukuran kecil, seperti Kamboja, Myanmar, dan Laos. Oleh karena itu, RRT butuh teman yang lebih berbobot, yaitu Indonesia. Di sini kita bisa bernegosiasi dan mengambil manfaat. RRT harus diajak berinvestasi besar-besaran dan mentransfer teknologi, memperkuat industri Indonesia.

Selanjutnya, Indonesia juga perlu mulai pasang kuda-kuda, pembangunan infrastruktur perlu terus digenjot.

Upaya pembangunan sumber daya manusia (SDM) perlu reformasi fundamental. Data menunjukkan, sekitar 60% pekerja kita berpendidikan sekolah dasar (SD). Jadi tidak hanya alokasi insentif, peningkatan kapasitas pekerja perlu dititikberatkan dengan mereformasi kurikulum dan pendidikan vokasi yang melibatkan industri sebagai end users.

Hal tersebut penting supaya tidak ada lagi mismatch antara pelatihan dan keterampilan yang dibutuhkan end users. Dengan demikian, visi Presiden di bidang SDM bisa terealisasi dan terakselerasi.




TERBARU
Kontan Academy
UU Kepailitan Tuntas Mendelegasikan Tugas

[X]
×