kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45941,11   -24,03   -2.49%
  • EMAS929.000 -0,11%
  • RD.SAHAM 0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.15%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.20%
KOLOM /

Meneropong dan Memanfaatkan Tatanan Dunia Multipolar Baru


Sabtu, 16 Januari 2021 / 08:38 WIB
Meneropong dan Memanfaatkan Tatanan Dunia Multipolar Baru
ILUSTRASI. Dato Sri Tahir - CEO Mayapada Group. Foto Dok. Pribadi

Reporter: Yuwono Triatmodjo | Editor: Yuwono triatmojo

Saat ini seluruh dunia mencetak uang. Dana asing akan masuk. Hal ini harus diarahkan untuk diinvestasikan jangka panjang ke sektor riil, tidak hanya di pasar modal menjadi hot money dan masalah di masa depan.

Kita telah punya UU Cipta Kerja yang harus dimanfaatkan untuk menarik investasi di sektor riil dan menumbuhkan lapangan pekerjaan baru yang mampu menampung pertambahan paling tidak 3 juta tenaga kerja baru per tahunnya.

Industri riil kita perlu dikembangkan di berbagai lini, mulai dari low tech sampai high tech. Belajar perbedaan AS dan RRT dikala pandemi, keberagaman industri ini diperlukan karena dari keberagaman ini, industri RRT resilien dan mampu bangkit cepat.

Dua per tiga wilayah Indonesia adalah laut. Kelebihan yang tidak dimiliki negara lain perlu dimanfaatkan. Pemberdayaan nelayan, industri industri terkait kelautan, turisme, sampai deep-sea mining akan mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Indonesia juga memiliki aset hutan yang luas. Dunia butuh ini sebagai paru-parunya. Peran ini bisa digunakan sebagai modal negosiasi dengan Uni Eropa dan anggota-anggotanya.

Pada kampanyenya, Joe Biden juga mensinyalkan orientasi arah politik luar negeri yang peduli lingkungan dan perubahan iklim. Jadi, hutan Indonesia bisa dikelola dan dimanfaatkan lebih lanjut melalui negosiasi dan intensifikasi kerjasama dengan Uni Eropa dan AS.

Di sisi financing, saat ini banyak bank sentral menurunkan suku bunganya. Ini artinya, dunia sedang memasuki era pinjaman murah. Indonesia harus bisa bernegosiasi untuk mendapat bunga murah dan merestrukturisasi utang yang ada, mengambil kesempatan era pinjaman murah guna menggenjot pembangunan.

Terakhir dari sisi eksekutif, orkestrasi pembangunan nasional perlu di perkuat. Contoh, secara kelembagaan, kapasitas dan otoritas Bappenas perlu diperkuat lagi.

Kementerian dan Lembaga negara lainnya diberi key performance index (KPI) yang bisa diukur dan dipertanggungjawabkan kemajuannya. Dengan demikian, Indonesia bisa mengambil keuntungan dari tatanan dunia baru, untuk solidifikasi pembangunan yang berkualitas dan merata.




TERBARU
Kontan Academy
UU Kepailitan Tuntas Mendelegasikan Tugas

[X]
×