kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45866,25   0,74   0.09%
  • EMAS918.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.32%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%
KOLOM /

Mengukur pengaruh kemenangan Biden ke pasar saham Indonesia


Jumat, 22 Januari 2021 / 01:03 WIB
Mengukur pengaruh kemenangan Biden ke pasar saham Indonesia

Reporter: Harian Kontan | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Joe Biden resmi dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) ke-46 tanggal 20 Januari 2021. Pelantikan Joe Biden disambut baik oleh pelaku pasar.

Ini antara lain terlihat dari indeks saham AS Dow Jones yang mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di 31.188. Saat itu, indeks Dow Jones naik 1,90%. 

Setelah dilantik menjadi presiden, Biden bergerak cepat mengeluarkan kebijakan untuk menopang ekonomi AS pada masa pandemi. Biden mengeluarkan proposal stimulus jumbo sebesar US$ 1,9 triliun.

Selain itu, Biden juga sudah menyiapkan kebijakan lainnya. Kebijakan tersebut dianggap cukup menguntungkan negara emerging market, termasuk Indonesia. 

Kebijakan pertama adalah kenaikan Tax Cuts and Jobs Act (TCJA) menjadi 28% dari sebelumnya 21%. Kenaikan pajak ini dapat membuat investor mencari negara dengan tax yang lebih murah.

Dampaknya, EPS growth akan turun ke depan. Dengan demikian, ada potensi aliran investasi dari AS ke global market lainnya, termasuk ke Indonesia.

Kedua, stimulus besar yang dikeluarkan Biden dapat membuat kurs dollar AS melemah. Sebab, jumlah dollar yang beredar lebih banyak.

Ini berdampak positif bagi Indonesia karena rupiah bisa menguat. Selain itu berdampak positif bagi perusahaan yang memiliki utang dengan mata uang dollar dan banyak mengimpor bahan baku. 

Selain itu saham-saham emas juga dapat terkena dampak positif. Pelemahan dollar AS akan meningkatkan harga emas global, sehingga menjadi katalis positif bagi saham emiten yang memproduksi emas.

Pelemahan dollar AS juga memberi dampak positif ke ekonomi riil dan pertumbuhan ekonomi global. Dengan demikian, berpotensi positif juga untuk harga komoditas pada umumnya.

Ketiga, Biden fokus pada green energy. Dampaknya adalah dorongan bagi industri kendaraan listrik semakin besar.

Dengan demikian, ambisi Indonesia memiliki industri baterai kendaraan listrik terbesar di dunia dapat berjalan baik. Terlebih lagi Indonesia saat ini merupakan produsen nikel terbesar.

Asal tahu saja, sekitar 29% dari total produksi nikel dunia berasal dari Indonesia. Nikel merupakan bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

Saham emiten yang memproduksi nikel berpotensi terdorong oleh kebijakan ini. Namun saat ini saham emiten produsen nikel sudah memiliki risiko tinggi, karena valuasinya mahal.

Secara umum, IHSG sudah rawan profit taking, setelah naik sekitar 36% dari bulan September. Jadi, investor perlu lebih waspada, jangan terlalu jor-joran karena sudah mulai rawan profit taking.




TERBARU

[X]
×