kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,11   -0,67   -0.07%
  • EMAS951.000 -0,21%
  • RD.SAHAM 1.12%
  • RD.CAMPURAN 0.52%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Menikmati Window Dressing di Bursa Saham

oleh Lukas Setia Atmaja - IG: lukas_setiaatmaja, www.hungrystock.com


Rabu, 18 November 2020 / 07:30 WIB
Menikmati Window Dressing di Bursa Saham


Reporter: Harris Hadinata | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Desember, secara tradisional, merupakan bulan yang menyenangkan bagi pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia. Dari analisis saya terhadap daily returns IHSG dari Januari 2000 hingga Agustus 2009, Desember dapat dinobatkan sebagai Bulan Terbaik, karena memiliki daily return terbesar (0,27%).

Kita semua tahu akhir tahun selalu jadi momen penting bagi perusahaan, yaitu saat tutup buku sebelum memulai lembaran baru di tahun buku berikutnya. Pelaku industri keuangan (institutional investor), khususnya pengelola reksadana, akan meninjau ulang dan menganalisa kinerja portofolio mereka selama enam bulan terakhir.

Berdasarkan peraturan Bapepam-LK, investor reksadana berhak mendapat laporan keuangan reksadana yang telah diperiksa akuntan publik sekali setiap 6 bulan. Ada dugaan sebagian besar pengelola dana (fund managers) melakukan window dressing supaya laporan tahunan ke investor tampak lebih cantik dari biasanya (lihat misalnya Meier dan Schaumburg, 2004; Kapugu dan Whardani, 2008).

Ini bisa dicapai dengan menjual saham yang dianggap pecundang (losing stocks), saham yang kinerjanya jelek berdasarkan harga 3-6 bulan terakhir. Dananya dipakai membeli saham yang sedang bersinar atau popular (top performer stocks) di peiode yang sama. Lewat window dressing, pengelola dana akan terlihat cukup cerdas menginvestasikan dana pada winning stocks.

Sebagai taktik pemasaran, tindakan ini masuk akal. Investor baru akan berpikir fund manager secara konsisten berhasil memilih saham berkinerja bagus. Tapi, dari sudut pandang memaksimumkan imbal hasil, window dressing bisa kontra-produktif karena mendorong fund managers menjalankan skenario buy high, sell low. Apalagi jika setelah periode tutup buku berlalu fund manager segera menjual saham-saham yang dipakai bersolek.

Apa dampak window dressing terhadap harga saham dan investor? Kecenderungan untuk melepas saham yang sedang merugi akan menekan lebih dalam harga saham tersebut. Apalagi jika investor institusi besar menjual saham pecundang secara serentak.

Ini kesempatan ambil untung bagi contrarian investor atau trader yang biasanya membeli saham saat mayoritas investor menjual. Seperti ungkapan Nathan Rothschild, investor legendaris Inggris, The best time to buy is when blood is running in the streets. Pada akhir tahun mereka akan membeli saham yang mungkin sudah undervalued pada harga diskon, kemudian mengharapkan harga saham tersebut pulih saat tekanan jual dari window dressing berkurang.

Sebaliknya, harga saham yang berkinerja baik akan melambung makin tinggi ketika para fund manager yang melakukan window dressing mencoba memasukkan cerita sukses ini ke dalam portofolio mereka. Maka saham yang mungkin sudah overvalued akan semakin kemahalan. Sekali lagi, contrarian trader bisa mengambil keuntungan dengan menjual sahamnya saat kebanyakan investor membelinya. Mereka memperkirakan harga akan segera terkoreksi setelah periode window dressing berlalu.

Namun contrarian bukan satu-satunya strategi yang dipakai pelaku pasar. Sebagian dari mereka mencoba menangguk keuntungan dari fenomena window dressing dengan menerapkan momentum investing. Ini strategi yang memanfaatkan kelanjutan (continuance) dari sebuah tren harga di bursa.

Momentum investor atau trader yakin kenaikan harga yang tajam dari sebuah saham akan diikuti oleh kenaikan berikutnya. Setiap kenaikan menjadi momentum bagi kenaikan berikutnya. Sebaliknya penurunan tajam harga saham akan diikuti penurunan lanjutan. Momentum investor bermain pada saham yang harganya bergerak cepat.

Akibatnya, berbeda dari contrarian investing, momentum trader justru mengikuti arus dengan membeli the winning stocks dan melakukan shortselling terhadap the losing stocks. Mereka akan memegang the winners sampai kenaikan harganya mulai melemah (sinyal untuk menjual).

Seperti ujar Richard Driehaus, pelopor momentum investing, "Far more money is made buying high and selling at even higher prices." Strategi ini bisa memberi imbal hasil tinggi, terutama jelang akhir tahun.

Penelitian Sias (2006), dengan menggunakan data periode 1984-2004 di pasar modal AS, mengindikasikan Desember merupakan surga bagi para momentum trader. Momentum profit pada Desember adalah yang tertinggi dibanding bulan lainnya (5,5% per bulan). Namun strategi ini juga amat berisiko. Bagaimana jika terlambat menjual dan ikut terbanting ketika harga mulai meluncur turun?

Di akhir tahun, harga saham nampaknya lebih ditentukan window dressing para institutional investor berdana besar daripada aspek fundamental, seperti pembagian dividen atau proyeksi laba. Ini membuka peluang bagi pelaku pasar untuk menikmatinya. Siapkah Anda?




TERBARU
Corporate Valuation Model Managing Procurement Economies of Scale Batch 5

[X]
×