kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Menjelang Pilpres 2019

Senin, 25 Maret 2019 / 13:48 WIB

Menjelang Pilpres 2019
ILUSTRASI. Satrio Utomo, Analis pasar modal Indonesia

Banyak faktor yang bisa menggerakkan harga. Mulai faktor fundamental, kinerja emiten, berita, analisis teknikal, rekomendasi, dan banyak lagi. Kalau kita mencari ke ranah yang lebih teoretis, faktor perbedaan hari pun bisa membuat pergerakan harga berbeda.

Pemilihan Presiden (Pilpres) pun tentu bisa mempengaruhi pergerakan harga. Dalam Pilpres 2014 yang lalu misalnya, kita mengenal adanya Jokowi Effect. Ini adalah kenaikan harga cukup tinggi yang terjadi ketika pasar melihat peluang Jokowi memenangkan Pilpres 2014, terlihat mengalami peningkatan. Dalam bahasa sederhana, kalau elektabilitas Jokowi naik, harga saham (baca: IHSG) akan naik. Sebaliknya, kalau elektabilitas Jokowi turun, harga akan bergerak turun.

Ini masih ditambah dengan berita-berita yang membuat pasar jadi lebih bersemangat mendukung pasangan Jokowi-JK. Misal, dana asing akan masuk sangat deras, kurs rupiah terhadap dollar AS turun ke bawah Rp 10.000, janji bila Jokowi-JK terpilih tidak akan ada utang asing, pertumbuhan ekonomi bakal di atas 7% dan lainnya.

Terlepas dari apakah janji kampanye tersebut terlaksana atau tidak, harga saham malah bergerak turun setelah Jokowi menjabat. Di 2015 saja, IHSG yang di akhir 2014 ditutup di level 5.166,98 sempat hampir mencapai level psikologis 4.000 (level terendah IHSG di 2015 4.033), sebelum kembali naik.

Banyak kebijakan pro-rakyat yang kemudian malah disikapi negatif oleh pasar modal karena menggerus potensi profit dari perusahaan yang ada di pasar modal. Contoh, penurunan harga semen yang muncul di awal 2015, pengaturan net interest margin (NIM), aturan domestic market obligation (DMO) batubara dan masih banyak lagi.

Belum lagi masalah kepercayaan pasar modal (terutama investor asing) kepada saham-saham sektor konstruksi, yang merupakan prestasi cemar, eh, tenar dari Pemerintahan Jokowi. Kinerja saham konstruksi (penjualan dan laba bersih) sebenarnya terus meningkat. Tapi, pasar modal, terutama investor asing, cenderung melepas posisi di saham-saham sektor ini, karena rasio utang yang terus memburuk.

Intinya, Jokowi memang memberikan lebih kepada rakyat, tapi pasar terpaksa menelan pil pahit berupa penurunan harga saham. Kepercayaan masyarakat, terutama investor asing, terhadap perusahaan BUMN konstruksi menjadi lebih rendah. Padahal hampir semua proyek infrastruktur sudah digelontorkan ke tangan mereka.

Toh, rally yang berlangsung pada 20162017 menunjukkan pasar modal tetap setia pada Jokowi. Meski dana asing ternyata malah mengalami eksodus besar-besaran dan keluar dari dari pasar modal Indonesia di 2018, pasar modal tetap setia.

Kesetiaan ini terlihat pada hari-hari belakangan ini. Pasar modal (baca: IHSG) tetap dalam mode Jokowi Effect seperti yang terjadi pada Pilpress 2014. Jika elektabilitas Jokowi-Maruf meningkat IHSG bergerak naik, demikian juga terjadi sebaliknya.

Cuma, Jokowi Effect yang terjadi belakangan kurang jelas, apakah kenaikan yang terjadi itu memang asli atau karena pencitraan. Yang saya maksud Jokowi Effect pencitraan adalah kenaikan harga yang dipaksakan (dengan mengerek IHSG lewat saham big caps free float kecil seperti GGRM dan UNVR).


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi

Tag
TERBARU
Terpopuler
Rumah Pemilu
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0026 || diagnostic_api_kanan = 0.2222 || diagnostic_web = 1.0324

Close [X]
×