kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,36   15,51   2.24%
  • EMAS908.000 -0,11%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN -0.19%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.21%

Peluang di Tengah Krisis Pandemi Covid-19

oleh Hans Kwee - Direktur Anugerah Mega Investama, Dosen FEB Trisakti


Sabtu, 16 Mei 2020 / 03:30 WIB
Peluang di Tengah Krisis Pandemi Covid-19

Reporter: Harris Hadinata | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Orang bilang, di setiap krisis akan ada kesempatan. Krisis mungkin sebuah ancaman bagi sebagian besar orang, tetapi bisa menjadi peluang bagi orang yang mampu memanfaatkannya. Krisis akibat. Bagaimana memanfaatkan krisis akibat pandemi Covid-19, yang dianggap sebagai krisis terbesar sesudah Great Depression di 1929-1930 ini?

Pasar saham tidak lepas dari tsunami Covid-19. Indeks saham berbagai negara mengalami koreksi dan sampai saat ini belum kembali ke angka awal. Banyak harga saham yang turun dan sampai saat ini belum berhasil pulih kembali.

Tapi kini pelaku pasar terlihat mulai optimistis menyambut puncak kurva Covid-19 di berbagai negara, yang mulai menunjukkan tren penurunan, baik dari jumlah kasus baru mapun jumlah kematian. Optimisme ini diperkuat dengan pelonggaran lockdown di beberapa negara dan wilayah. Pelaku pasar berharap kehidupan kembali normal, sehingga ekonomi dan bisnis segera pulih kembali.

Sebagian pelaku pasar berpendapat pasar saham akan mengalami pemulihan dengan bentuk V secara cepat setelah pandemi berhasil ditanggulangi. Tetapi bentuk pemulihan V mungkin tidak akan terjadi pada sektor rill. Kerusakan yang timbul akibat lockdown ataupun pembatasan sosial untuk memperlambat penyebaran Covid-19 terlalu besar.

Ketahanan tiap perusahaan dipengaruhi karakteristik dan keunikan perusahaan, serta karakter sektor bisnis perusahaan tersebut. Tulisan ini akan membahas dari sisi leverage sebuah perusahaan.

Ada dua macam leverage yang dipakai sebuah perusahaan, yakni operating leverage dan financial leverage. Operating leverage terjadi ketika sebuah perusahaan memakai banyak fixed cost atau biaya tetap, dalam melakukan operasinya. Sedangkan financial leverage terkait bagaimana perusahaan membentuk struktur modalnya.

Operating leverage diukur dengan membandingkan persentase perubahan kenaikan atau penurunan pendapatan terhadap laba sebelum bunga dan pajak. Perusahaan dikatakan menggunakan operating leverage bila banyak memakai fixed cost dalam komponen biaya operasinya.

Jadi, ketika penjualan naik, persentase kenaikan penjualan akan lebih besar daripada persentase kenaikan biaya. Tetapi ketika terjadi penurunan penjualan, persentase penurunan penjualan akan lebih besar daripada persentase penurunan biaya.

Ketika Covid-19 datang, sebagian besar perusahaan menghadapi penurunan omzet penjualan. Perusahaan tertentu bahkan tidak mendapat pendapatan. Bila komponen fixed cost besar, dapat diperkirakan bisnis tersebut akan bermasalah.

Investor dapat mencermati fenomena ini untuk mengetahui fundamental sebuah perusahaan. Perusahaan yang mampu bertahan dalam kondisi seperti ini dan mampu menghasilkan keuntungan adalah perusahaan yang dapat menjadi pilihan investasi untuk jangka panjang.

Perusahaan mungkin akan melakukan pemotongan biaya tetap. Biasanya komponen biaya tetap antara lain biaya gaji, biaya sewa dan biaya servis. Perusahaan yang cepat melakukan PHK karyawan tentu mendapat poin negatif.

Artinya pendapatan perusahaan pasti terpukul, margin selama ini tipis sehingga cadangan terbatas dan bisnis perusahaan terdampak. Selain itu, karena perusahan kehilangan karyawan, ketika bisnis kembali normal ,tentu akan sulit segera beroperasi kembali. Kabar PHK ini bisa menjadi evaluasi awal investor atas saham-saham perusahaan yang dimiliki.

Faktor financial leverage juga perlu diperhatikan. Bila perusahaan banyak memakai pendanaan dengan biaya tetap, seperti pinjaman atau saham preferen, akan ada risiko besar. Biaya bunga yang timbul akibat pinjaman dan dividen saham preferen akan tetap dari waktu ke waktu.

Akibatnya, saat pendapatan turun, laba per saham pemegang saham juga akan turun, bahkan bisa negatif. Penurunan EPS secara langsung maupun tidak langsung membuat harga saham turun. Karena itu investor harus memperhatikan rasio utang atau struktur modal emiten.

Seorang direktur HRD sebuah perusahaan besar juga memperingatkan, akan banyak sengketa bisnis dan sengketa kerjasama sesudah lebaran akibat perusahaan kesulitan aliran kas. Hal ini harus dicermati pelaku pasar sebagai sinyal pemilihan perusahaan.

Pelaku pasar harus fokus pada perusahaan yang punya fundamental kuat, ditandai komponen utang dalam struktur modal yang relatif kecil. Perusahaan juga harus punya komposisi kas yang kuat. Pilih juga sektor bisnis yang tetap mendapat permintaan atau tidak mengalami penurunan pendapatan signifikan akibat pembatasan sosial saat ini.

Setiap krisis, pasar saham selalu memberi diskon yang menarik. Jadi ada peluang dan kesempatan dari pandemi Covid-19 ini.



TERBARU

[X]
×