kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45786,75   -3,71   -0.47%
  • EMAS1.008.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.34%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%
KOLOM /

Peluang emiten konstruksi setelah omnibus law disahkan

oleh Ellen May - Ellen May Research Institute


Rabu, 07 Oktober 2020 / 17:56 WIB
Peluang emiten konstruksi setelah omnibus law disahkan
ILUSTRASI. Ellen May, Pengamat Pasar Modal dan pendiri Ellen May Institute. 


Reporter: Harian Kontan | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun ini, pandemic Covid-19 menyerang Indonesia. Ini berdampak pada kinerja emiten sektor konstruksi dan menyebabkan penurunan harga saham sektor konstruksi.

Namun, pada perdagangan saham kemarin (6/10), saham sektor konstruksi sempat mengalami kenaikan secara temporer. Ini terjadi karena adanya sentimen positif terkait pengesahan omnibus law atau udang-undang sapu jagat.

Pengesahan omnibus law atau RUU Cipta Kerja, Senin (5/10) lalu, menjadi katalis positif bagi emiten konstruksi. Selain sektor properti, sektor konstruksi juga berpotensi dilirik investor dengan adanya undang-undang sapu jagat ini.

Adanya aturan pengolahan bank tanah oleh negara akan menguntungkan perusahaan konstruksi BUMN. Hal ini dikarenakan emiten konstruksi pelat merah memiliki pangsa pasar untuk proyek-proyek pemerintah.

Di sisi lain, sebagai upaya program pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19 dalam program infrastruktur, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) telah mengalokasikan anggaran infrastruktur dalam RAPBN 2021 sebesar Rp 414 trilliun.

Anggaran tersebut cukup besar dibanding anggaran tahun ini yang hanya Rp 24,3 trilliun. Hal ini tentunya bisa mendongkrak kinerja emiten konstruksi di tahun depan.

Bisa dilihat pada tabel di atas, berdasarkan valuasi saat ini saham WSKT masih diperdagangkan dengan valuasi murah. Nilai price to book value (PBV) WSKT sebesar 0,284 kali. Sedangkan untuk saham WIKA nilai valuasi sedikit mahal jika dibandingkan dengan ADHI, PTPP dan WSKT.

Untuk melihat kemampuan perusahaan menyelesaikan kewajiban jangka panjang, investor bisa melihat nilai debt to assets ratio (DAR). Nilai DAR saham ADHI, PTPP, WIKA dan WSKT lebih dari 0,05. Maka dapat disiimpulkan sebagian besar aset perusahaan dibiayai oleh utang. Saham WIKA memiliki risiko yang rendah dibandingkan dengan emiten lain, dengan DAR sebesar 0,730.

Perusahaan yang sehat secara keuangan dapat dilihat melalui rasio debt to equity ratio (DER). Apabila rasio DER di bawah 1 kali atau 100%, artinya keuangan semakin sehat.

Namun sebaliknya, pada tabel di atas, nilai DER keempat saham tersebut lebih dari 1 kali. Artinya, kondisi keuangan saham ADHI, PTPP, WIKA dan WSKT kurang sehat.

Secara teknikal,saham ADHI, PTPP, WIKA dan WSKT saat ini masih berada di stage 1 atau area akumulasi. Entry buy ADHI bisa dilakukan ketika harga sudah tembus resistance kuat MA 200 di harga Rp. 700.

Sedangkan untuk saham PTPP bisa entry buy ketika menembus resistance kuat di harga Rp 1.000. Saham WIKA bisa entry buy di area Rp 1.400 ketika menembus MA 200 sebagai resistance kuatnya.

WSKT bisa mulai entry buy di harga Rp 800 ketika sudah menembus resistance kuatnya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan, secara fundamental saat ini saham di atas masih murah untuk dibeli. Disisi lain pergerakan harga saham konstruksi masih berada di area akumulasi.

Apabila ingin entry buy, lebih baik bila harga sudah menembus resistance kuatnya. Dengan demikian investor tidak terbawa kondisi sideways yang terlalu lama.




TERBARU

[X]
×