kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.043
  • EMAS656.000 -0,23%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Pilpres dan saham

Senin, 08 April 2019 / 14:19 WIB

Pilpres dan saham
ILUSTRASI. ANALISIS - Hans Kwee

Apa yang sama antara saham dan presiden? Salah satunya, sama-sama harus memilih. Pelaku pasar perlu memilih mau membeli atau menjual saham yang mana. Masyarakat, ketika menghadapi pemilu, juga dihadapkan pada hal yang sama, harus memilih calon presiden dan wakil presiden mana yang ia harapkan bisa memimpin negara ini dengan baik untuk periode lima tahun ke depan.

Ada faktor psikologi yang sama-sama mempengaruhi pelaku pasar dan pemilih dalam memilih saham atau presidennya. Dalam kajian keuangan berbasis perilaku (behavioral finance), dikenal istilah confirmation bias, yang mempengaruhi cara seseorang dalam berpikir dan menganalisa.

Confirmation bias terjadi di pasar saham ketika pelaku pasar terlanjur menyukai sebuah saham atau perusahaan, sehingga akan memilih informasi yang diterima. Ketika ada berita positif atau baik terkait perusahaan atau saham tersebut, dia cenderung menganggap informasi tadi relevan dan akurat, sehingga akan meningkatkan keyakinannya terhadap prospek perusahaan atau saham tersebut.

Dengan demikian, ketika harga saham perusahaan tersebut naik seiring berita positif yang muncul tadi, pelaku pasar akan sangat senang. Kondisi ini meningkatkan kecintaannya pada saham tersebut.

Begitu pula sebaliknya. Tetapi ketika ada berita negatif terkait saham atau perusahaan tersebut, dia cenderung mengabaikannya. Bahkan, si pelaku pasar bisa jadi menganggap informasi tersebut tidak relevan atau tidak akurat. Ketika terjadi penurunan pada harga saham perusahaan tersebut, pelaku pasar cenderung menahan saham tersebut dan tetap yakin saham perusahaan yang dibeli adalah bagus.

Pelaku pasar tersebut sudah terlanjur jatuh cinta sehingga membela perusahaan tersebut. Menganggap perusahaan masih punya prospek dan kerugian investasi hanya akan terjadi sementara dan potensi saham tersebut masih baik, biarpun pada kenyataanya keadaan tidak sesuai yang diharapkan.

Pada kasus pelaku pasar sudah terlanjur membenci sebuah perusahaan, maka yang terjadi adalah kebalikannya. Ketika seorang pelaku pasar sudah terlanjur kecewa dan membenci sebuah saham perusahaan, semua informasi negatif sebuah perusahaan cenderung segera diterima dan dianggap sebagai informasi relevan dan akurat. Oleh karena itu, ketika informasi negatif tersebut terkonfirmasi dengan penurunan harga saham perusahaan, keyakinan pelaku pasar tersebut bahwa perusahaan tersebut jelek semakin besar.

Tetapi ketika ada informasi positif tentang prospek perusahaan, pelaku pasar tadi justru cenderung akan mengabaikan atau menolak informasi tadi. Padahal, tidak selamanya sebuah perusahaan memiliki kinerja jelek dan tidak mempunyai prospek.

Ketika suatu perusahaan melakukan restrukturisasi, mengganti jajaran manajemen atau merilis produk baru, seringkali tindakan yang dilakukan tadi akan mengubah prospek sebuah perusahaan. Ketika pelaku pasar mengalami bias konfirmasi dan tetap percaya bahwa perusahaan tersebut jelek, si pelaku pasar akan melewatkan kesempatan mendapatkan keuntungan dari perusahaan yang terlanjur dia benci.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi

Tag
TERBARU
Terpopuler
Rumah Pemilu
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0006 || diagnostic_api_kanan = 0.0492 || diagnostic_web = 0.3328

Close [X]
×