kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45786,75   -3,71   -0.47%
  • EMAS1.008.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.34%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%
KOLOM /

PMI turun lagi, deflasi Indonesia masih berlanjut

oleh Ellen May - Ellen May Research Institute


Kamis, 01 Oktober 2020 / 17:27 WIB
PMI turun lagi, deflasi Indonesia masih berlanjut
ILUSTRASI. Ellen May, Pengamat Pasar Modal dan pendiri Ellen May Institute. Foto: DOK PRIBADI

Reporter: Harian Kontan | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ada harapan Indonesia bisa segera keluar dari deflasi. Pada September, deflasi Indonesia Cuma sebesar 0,05%. Deflasi ini terjadi karena adanya penurunan harga komoditas dari kelompok makanan, minuman dan tembakau.

Di sisi lain, Markit Economics merilis purchasing managers index (PMI) sektor manufaktur Indonesia turun di September turun jadi 47,2 dari sebesar 50,8 di Agustus. Pembatasan berskala besar (PSBB) yang kembali diterapkan di pertengahan September menjadi faktor menurunnya PMI Indonesia.

PSBB yang dilakukan membuat permintaan akan produk kembali tertekan. Perusahaan pun menekan produksi untuk menjaga stok barang, agar tidak terjadi kelebihan persediaan barang jual.

Selain itu, distribusi bahan baku dari pemasok juga menjadi lebih lambat dibanding biasanya. Pada akhirnya, kegiatan produksi menjadi kembali menurun.

PMI adalah sebuah indikator yang menyediakan gambaran umum mengenai kondisi sektor industri manufaktur. Batas PMI sebagai ukuran industri suatu negara ada di angka 50. Jika suatu negara memiliki PMI di atas 50, berarti industri di negara tersebut sedang ekspansi.

Indonesia juga mengalami deflasi di September sebesar 0,05%. Dus, inflasi tahunan jadi sebesar 1,42%.

Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga, yang ditunjukkan oleh turunnya indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,37% dan kelompok transportasi sebesar 0,33%.

Secara garis besar, deflasi terjadi di September karena daya konsumsi masyarakat masih lemah akibat pandemi yang berlangsung dan PSBB yang kembali dilakukan. Sehingga harga-harga secara umum mengalami penurunan.

Deflasi adalah kebalikan dari inflasi, terjadi jika permintaan terus menurun sehingga perusahaan tidak dapat menaikkan harga dan terpaksa menurunkan harga untuk menjaga tingkat penjualan. Deflasi secara umum memiliki dampak negatif, seperti penurunan UMR, menurunnya pendapatan bisnis, hingga terjadi PHK.

Sumber: BPS

Efek ke IHSG

Hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 2,06% jadi 4.970,09. Seluruh indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia mencetak pergerakan positif. Tapi investor asing masih mencatatkan penjualan bersih Rp 9,36 miliar.

Melihat hal tersebut, kami menilai rilis data PMI dan inflasi sudah priced-in di dalam pergerakan market. Investor telah mengambil tindakan antisipasi atas rilis data tersebut hari ini.

Investor disarankan jangan panik dan tetap rasional. Hold saham pegangan dan siapkan amunisi (dana dingin) untuk cicil beli lagi.

Bagi trader, jangan terlalu agresif trading saat ini. Kondisi market belum terlalu kondusif.  Ada waktunya untuk trading lagi, ketika kondisi pasar saham sudah dalam kecenderungan naik.




TERBARU

[X]
×