kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45786,75   -3,71   -0.47%
  • EMAS1.008.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.34%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%
KOLOM /

Prospek BRIS pasca merger bank syariah

oleh Ellen May - Ellen May Research Institute


Rabu, 14 Oktober 2020 / 17:23 WIB
Prospek BRIS pasca merger bank syariah
ILUSTRASI. Ellen May, Pengamat Pasar Modal dan pendiri Ellen May Institute. Foto: DOK PRIBADI


Reporter: Harian Kontan | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Para pelaku pasar dan investor merespons positif merger atau penggabungan tiga bank umum syariah milik Himbara. Ketiganya adalah PT Bank BRI Syariah, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah.

Aksi korporasi tersebut akan menjadikan bank hasil merger sebagai bank syariah terbesar di Indonesia. BRI Syariah akan menjadi induk dari aksi merger perbankan syariah, karena BRIS merupakan satu-satunya perbankan syariah yang listing di Bursa.

Sedangkan Bank Mandiri Syariah akan menjadi kendali atas merger tersebut, dengan kepemilikan saham sebesar 50%. Bank BNI Syariah dan BRI Syariah mendapat proporsi kepemilikan saham masing-masing 24%.

Penggabungan ini diprediksi akan memperbaiki pengelolaan perusahaan, dengan kolaborasi dari manajemen lintas perbankan syariah. Sehingga kinerja dan prospek perusahaan ke depan lebih terarah.

Dalam menghadapi aksi korporasi, Bank BRI Syariah akan melakukan perubahan anggaran dasar supaya kepemilikan saham BRIS tidak terdilusi terlalu besar akibat adanya kendali Bank Mandiri Syariah, dengan kepemilikan saham 50%. Ini akan menyebabkan persentase kepemilikan saham minoritas berkurang.   

Hingga Juni 2020, total aset ketiga bank Syariah tersebut mencapai Rp 214,74 triliun dan total ekuitas mencapai Rp 20,4 triliun. Setelah dinyatakan resmi merger pada Februari 2021 nanti, total aset diprediksi akan mencapai Rp 220 triliun-Rp 225 triliun.

Total aset bank syariah hasil merger diproyeksikan akan mencapai Rp 350 triliun. Target pembiayaan mencapai Rp 272 triliun dan pendanaan berkisar Rp 335 triliun.

Dengan demikian, ketika ketiga bank syariah tersebut bersatu, total aset akan semakin besar. Selain itu, merger juga dapat memperbaiki kinerja perbankan Syariah.

Aksi merger ini juga akan meningkatkan efisiensi dan daya saing, sehingga operasional lebih efisien. Jika kinerja perusahaan di salah satu emiten kurang bagus, maka dengan merger ini diprediksi mampu memperbaiki operasional perbankan Syariah.

Secara valuasi Bank BRI Syariah (BRIS) saat ini masih cukup murah. Per Rabu (14/10), nilai PBV BRIS sebesar 2,62 kali, lebih murah dibandingkan valuasi BTPS sebesar 5,37 kali. Dengan demikian, BRIS masih berpeluang untuk dikoleksi.

Secara teknikal, tren besar dari BRIS cenderung uptrend. Apabila ingin entry buy bisa di level Rp 1.200-Rp 1.405.

Adanya aksi korporasi merger ini menjadikan katalis positif bagi saham BRIS. Ini tercermin pada pergerakan harga saham yang naik 60% sejak 12 Oktober 2020. 




TERBARU

[X]
×