kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,11   -0,67   -0.07%
  • EMAS951.000 -0,21%
  • RD.SAHAM 1.12%
  • RD.CAMPURAN 0.52%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%
KOLOM /

Prospek emiten tambang logam mineral

oleh Ellen May - Ellen May Research Institute


Rabu, 21 Oktober 2020 / 13:38 WIB
Prospek emiten tambang logam mineral
ILUSTRASI. Ellen May, Pengamat Pasar Modal dan pendiri Ellen May Institute. 


Reporter: Harian Kontan | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah harga saham emiten penambang logam mineral belakangan ini menggeliat ditopang berbagai sentimen. Di antaranya pemulihan ekonomi China serta rencana pemerintah membentuk perusahaan holding di bisnis baterai listrik.

Pemerintah berencana membentuk Indonesia Battery Holding (IBH) sebagai bentuk keseriusan Indonesia dalam membangun industri baterai kendaraan listrik. Holding baterai ini akan terintegrasi dari hulu hingga ke hilir.

Rencana pembentukan perusahaan ini melibatkan tiga BUMN di bidang energi, yakni Mining & Industry Indonesia (MIND ID), PT Pertamina dan PT PLN.

Berikut ulasan seputar saham-saham emiten penambang logam mineral.

TINS

Pulihnya ekonomi China mendorong peningkatan impor timah rafinasi. Walaupun begitu, harga rata-rata alias average selling price (ASP) Timah masih memberikan tekanan bagi penjualan PT Timah Tbk (TINS).

Pada semester I-2020, TINS membukukan rugi bersih sebesar Rp 390 miliar dibanding laba bersih sebesar Rp 205 miliar pada semester I-2019. Ini disebabkan rendahnya harga timah rafinasi, yang turun 23% disbanding tahun sebelumnya, ditambah beban bunga yang lebih tinggi 17% dari tahun sebelumnya.

Berdasarkan data China Customs terakhir, Tiongkok telah melakukan impor timah rafinasi sebesar 3.674 metrik ton di Mei 2020. Angka ini naik 1,76% YoY, atau tertinggi sejak Maret 2012.

Mayoritas impor tersebut berasal dari Indonesia, yaitu sebesar 2.586 metrik ton. Adapun di lima bulan pertama tahun ini, impor timah rafinasi ke Tiongkok menjadi 7.677 metrik ton, naik 10% YoY. Hal tersebut akan memperkuat harga timah dunia dan berpotensi memperbaiki ASP TINS di semester II-2020.

ANTM

Pada semester I-2020, ANTM membukukan laba bersih sebesar Rp 85 miliar, turun 80,2% YoY. Pendapatan turun 36,05% YoY pada semester I-2020 menjadi Rp 9,23 triliun.

Penjualan emas turun sebesar 33,32% YoY pada semester I-2020 menjadi Rp 6,41 triliun. Penjualan dari feronikel turun 12,47% YoY pada semester I-2020 menjadi Rp 2,02 triliun.

Penurunan penjualan feronikel terjadi karena pembatasan ketat di China, India dan Korea Selatan akibat pandemi.

Produksi emas turun 13,18% YoY pada semester I-2020 menjadi 27,33 ons troi. Sementara produksi feronikel turun 2,0% YoY menjadi 12,76 Tni. Produksi bijih nikel  turun 71,34% YoY pada semester satu menjadi 1,37 juta WMT.

Utilisasi lebih tinggi di fasilitas produksi Pomalaa mendorong produksi feronikel, sejalan membaiknya permintaan dari China. Sementara itu, proyek pengembangan pabrik feronikel Halmahera saat ini mencapai 98% dari target penyelesaian proyek, yang dapat menambah hasil produksi sebesar 13.500 Tni per tahun menjadi 40.500 Tni.

Pemerintah juga membentuk Indonesia Battery Holding (IBH). BUMN yang bakal mengerjakan proyek besar ini adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Pertamina dan PT Perusahaan Listrik Negara.

Antam berencana akan mengambil peran dalam penambangan serta pengolahan nikel sulfat. Proyek EV Battery di Indonesia ini diperkirakan akan bernilai sebesar US$ 20 miliar.

Selain itu, Tesla tertarik membangun pabrik baterai di Indonesia. Tesla tertarik menanamkan modal lantaran Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. 

Selain Tesla, ada CATL produsen baterai asal China ini juga berminat untuk berinvestasi dalam pembangunan pabrik baterai di Indonesia.

Produsen baterai kendaraan listrik asal Korea Selatan, yakni LG Chem, juga disebut tertarik untuk berinvestasi di Indonesia. CATL dan LG Chem disebutkan akan berinvestasi US$ 12 miliar.

INCO

Pada semester I-2020, INCO membukukan laba bersih sebesar US$ 53 juta, naik dari rugi bersih US$ 26 juta. Pendapatan naik 23,32% YoY pada semester I-2020 menjadi US$ 360 juta.

Volume penjualan meningkat 17,2% YoY menjadi 19.887 ton. Peningkatan volume penjualan mengimbangi penurunan harga nikel selama kuartal I karena Covid-19.

Harga nikel telah melonjak 36,1% sejak Maret menjadi US$ 15.640 per ton. Hal ini karena pemulihan produksi baja tahan karat berbasis nikel di China, yang dipicu oleh peningkatan ekonomi China pasca lockdown.

INCO juga melakukan divestasi 20% saham pada MIND.ID, disertai perjanjian jajaran direktur dan komisioner akan ditunjuk langsung oleh Inalum. Hal ini menguntungkan untuk proyek INCO, terutama smelter Bahadopi dan Pomalaa. Divestsi ini dalam untuk hilirisasi nikel serta pengembangan industri baterai untuk mobil listrik.

Saham

Rekomendasi

EPS

PBV

NPM

DER

TINS

Buy (swing trading)

Rp -52

1.32x

-4.8%

2.8x

ANTM

Neutral

Rp 3.53

1.37x

0.9%

0.7x

INCO

Buy (super trading)

Rp 71.8

1.44x

14.7%

0.1x

Saham pilihan utama kami adalah INCO, kisaran beli di Rp 4.120-Rp 4.160. Harga INCO saat ini uptrend.

Selain itu, harga nikel saat ini terus meningkat seiring dengan pemulihan ekonomi China dan kampanye transformasi energi. INCO memiliki DER lebih rendah dibanding dengan ANTM dan TINS. Dari sisi profitabilitas, INCO memiliki profit margin yang lebih tinggi. 




TERBARU

[X]
×