kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,36   15,51   2.24%
  • EMAS908.000 -0,11%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN -0.19%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.21%
KOLOM /

Prospek INCO di tengah pandemi corona

oleh Ellen May - Ellen May Research Institute


Senin, 20 April 2020 / 14:38 WIB
Prospek INCO di tengah pandemi corona
ILUSTRASI. Ellen May, Pengamat Pasar Modal dan pendiri Ellen May Institute. Foto: DOK PRIBADI

Reporter: Harris Hadinata | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) adalah perusahaan investasi asing dengan lisensi dari Pemerintah Indonesia untuk mengeksplorasi, menambang, memproses dan memproduksi nikel. Perusahaan tambang mineral ini mencatatkan kinerja operasional yang cukup positif sepanjang kuartal pertama 2020, di tengah badai virus corona. 

Produksi nikel dalam matte INCO di akhir kuartal I-2020 mencapai 17.614 metrik ton. Jumlah ini meningkat 34,66% (yoy) dibandingkan realisasi di kuartal I-2019 sebanyak 13.080 metrik ton. 

Jika dihitung secara kuartalan, hasil produksi nikel dalam matte INCO di kuartal I-2020 lebih rendah 14,05% (qoq) ketimbang produksi di kuartal IV-2019 lalu sebanyak 20.494 metrik ton.

Hasil produksi nikel dalam matte secara kuartalan turun karena adanya aktivitas pemeliharaan yang telah direncanakan perusahaan tersebut. Di semester I-2020 INCO melakukan pemeliharaan proyek kanal bendungan Larona yang menyuplai air untuk kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). 

Untungnya, harga nikel pada semester II-2019 membaik sehingga membuat perusahaan menghasilkan lebih banyak pendapatan untuk mengompensasi catatan pada semester pertama.

Perusahaan ini juga menyatakan aktivitas nikel dalam matte sampai saat ini tidak terpengaruh oleh penyebaran wabah corona. INCO menargetkan produksi nikel dalam matte masih di level 71.000 metrik ton untuk 2020. 

Produk nikel INCO dikirimkan ke VCL di Kanada dan Sumitomo Mining di Jepang dengan perjanjian kontrak terlebih dahulu.

Tapi, melihat INCO juga terpengaruh oleh harga komoditas global. Karena itu, saham ini kurang cocok untuk investasi jangka panjang. 

Kegiatan pertambangan dan smelting di China terganggu karena adanya kebijakan lockdown. Ini menyebabkan ancaman berlebihnya ketersediaan pasokan nikel. 

Persediaan nikel yang tidak terserap bisa menyebabkan harga komoditas melemah, sehingga berpengaruh pada laba INCO tahun ini.

Sebagai informasi, tahun 2019 INCO meraih kenaikan pendapatan sebesar 1% (yoy) menjadi US$ 782,01 juta. Namun, laba bersih perusahaan ini turun 5,14% (yoy) menjadi US$ 57,40 juta. 

Saat ini INCO berada pada PER 32,38 kali, PBV 0,96 kali dan EPS Rp 80,60.

Namun, secara teknikal, ada peluang trading jangka pendek. Ini tercermin dari lonjakan volume dari 20 Maret, yang menandakan saham ini mulai diakumulasi. 

Kemarin (17/4) dan hari ini lonjakan volume INCO juga cukup signifikan.

Di perdagangan sesi pertama, Senin (21/4), saham INCO ditutup menguat 4,44% di harga Rp 2.610. 

Kami menilai ada peluang trading dengan masuk di range harga Rp 2.600-Rp 2620 sebanyak 5% dari modal swing trading, dengan peluang profit taking di area Rp 2.750-Rp 2.770. Sebagai pembatasan risiko, jual INCO jika turun dari harga Rp 2.450. 

Ingin tahu di mana saja peluang dan saham-saham potensial di tengah penurunan IHSG saat ini? Temukan jawabannya di aplikasi EMTrade!



TERBARU

[X]
×