kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
KOLOM /

SCMA dan MNCN Beradu di Bisnis Digital


Jumat, 08 Maret 2019 / 18:04 WIB
SCMA dan MNCN Beradu di Bisnis Digital

Reporter: Dupla Kartini | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten pengelola stasiun televisi berpeluang menikmati pertumbuhan belanja iklan di tahun ini. Hajatan pemilihan umum (pemilu) bakal menjadi katalis. 

Tahun lalu, adanya perhelatan besar, terutama Asian Games mampu mengerek belanja iklan televisi. Layanan sistem monitoring iklan televisi (TVC) Adstensity mencatat, total belanja iklan di TV pada 2018 mencapai Rp 110,46 triliun, naik 13,35% dibandingkan 2017. Kontribusi terbesar yakni 20,31% dari industri produk personal care.

Tiga stasiun televisi milik PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) menguasai pangsa pasar iklan mencapai 28,26%. Diikuti, grup PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) sebesar 18,67%.

Meski kali ini momentumnya politik, tapi, pertumbuhan signifikan diduga tidak bersumber langsung dari iklan politik. Memang, iklan kampanye akan mulai ditayangkan di media massa. Tapi, Kepala Riset Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe menilai, efeknya tidak akan signifikan. Sebab, penayangan iklan kampanye hanya singkat, 24 Maret-13 April 2019. Bandingkan dengan iklan kampanye pada pilpres 2014 yang berlangsung tiga bulan.

Kala itu, menurut data Nielsen, kontribusi iklan politik hanya 2% terhadap total belanja iklan nasional yang mencapai Rp 109,74 triliun.

Belum lagi, pada pemilu kali ini, jatah slot iklan dibatasi. Makanya, Direktur Utama MNCN David Fernando Audy menduga, iklan politik di televisi tak terlalu potensial. “Parpol tidak banyak beriklan di televisi karena ada aturan KPU. Mereka memanfaatkan billboard dan media sosial,” kata dia kepada Kontan.co.id, Jumat (18/1).  

Peluang belanja iklan yang lebih besar justru diperkirakan bersumber dari para produsen barang konsumer. Sebab, hajatan politik biasanya mendongkrak konsumsi. Apalagi, pemerintah menambah anggaran bantuan sosial di 2019.

Robert Sebastian, analis Ciptadana Sekuritas Asia mengatakan, perusahaan konsumer   memanfaatkan kenaikan daya beli. Mereka akan menambah belanja iklan. “Ini efeknya akan bagus bagi emiten media yang memiliki pangsa pemirsa besar dan rating konsisten,” ujar dia.

Kiswoyo melihat, potensi peningkatan belanja iklan dari perusahaan lokal pasca pemilu. Dia meyakini perusahaan yang wait and see di 2018 akan lebih ekspansif setelah pemilu. 

Toh, media televisi menghadapi tantangan pergeseran iklan ke ranah digital. Menurut analis Mirae Asset Sekuritas, Christine Natasya, industri fast moving consumer goods (FMCG) kini lebih banyak promosi melalui internet dan media daring.

Tak heran, emiten media, seperti MNCN dan SCMA berlomba menjajal bisnis digital. Selain mendirikan media daring, juga memproduksi konten sendiri. Bagaimana prospek bisnis kedua emiten itu pada 2019. Simak ulasan berikut ini.          




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×