kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Selain debat, apa?


Senin, 18 Maret 2019 / 16:16 WIB

Selain debat, apa?

KONTAN.CO.ID -  Debat pertama calon presiden dan wakil presiden RI telah digelar oleh KPU pada tanggal 17 Januari 2019.

Banyak tontonan menarik dari acara debat, mulai dari hal yang terkait dengan isi debat semisal rumusan visi misi dan akurasi data, hingga urusan peserta debat yang jarang bicara ataupun aksi joget dan pijat-pijatan.

Suka tidak suka, banyak publik (khususnya warganet) lebih tergoda untuk memberikan komentar terhadap perkara non isi, yakni aksi dan perilaku unik peserta debat.

Sementara, para pengamat dan juga masing-masing tim sukses, lebih memberikan perhatian utama kepada isi pembicaraan debat.

“Yang penting kan isi visi dan misi pasangan calon (paslon), bukannya gaya dan perilaku debat mereka!”, demikian tutur anggota dari tim sukses salah satu paslon.

Pertanyaannya, benarkah rumusan visi misi pantas dijadikan acuan utama dalam menentukan sosok pemimpin masa depan?

Praksis rekrutmen dan seleksi pegawai mengalami evolusi dari masa ke masa. Hingga pada awal tahun 1970-an, para pelaku organisasi dan manajer SDM umumnya  memilih calon karyawan berdasarkan kemampuan-kemampuan umum yang dapat dilihat secara jelas, semisal : keterampilan komunikasi dan sikap inisiatif.

Sepanjang mata bisa melihat kualitas-kualitas seperti itu dalam diri seseorang, seketika itu juga benak kita akan menyimpulkan yang bersangkutan sebagai pekerja handal.

Dengan berjalannya waktu, alat-alat uji (tes) untuk membantu mendeteksi kualifikasi seseorang pun dikembangkan.

Namun sayangnya, beberapa riset (antara lain yang dilakukan Ghiselli-1966 dan Mischel-1968) ternyata menunjukkan bahwa sifat-sifat kepribadian yang didapatkan dari tes yang ada pada saat itu, tak menunjukkan korelasi signifikan dengan tingkat kinerja yang ditunjukkan.

Artinya, tak ada bukti nyata bahwa hasil tes kepribadian yang positif dari seseorang serta merta akan menjamin kinerja yang tinggi juga darinya.

Sama halnya, banyak penelitian lain yang juga menunjukkan bahwa alat uji semisal tes potensi akademis dan tes pengetahuan tradisional, ternyata juga tak dapat meramalkan derajat kinerja seseorang.

Bahkan, nilai ijazah dan peringkat di sekolah juga tak menunjukkan daya prediktif yang signifikan terhadap keberhasilan karier dan pencapaian kerja seseorang di masa mendatang.

Kegalauan-kegalauan tersebut mendorong ahli psikologi David McClelland dkk. untuk melakukan riset yang lebih mendalam tentang variabel yang dapat memprediksi kinerja seseorang secara lebih sahih dan jitu. Ia menamai variabel tersebut sebagai “kompetensi”.

Dalam buku bertajuk Competence At  Work (Spencer & Spencer, 1993), kompetensi diartikan sebagai karakteristik yang dimiliki seseorang, yang membuatnya sanggup menunjukkan kinerja yang lebih hebat (superior) daripada rata-rata orang pada umumnya.

Kompetensi sendiri dibangun oleh berbagai elemen, yakni : keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), peran sosial (social role), citra ciri (self image), sifat (trait), dan keinginan dasar (motive).

Pendekatan kompetensi

Ibarat gunung es, keterampilan dan pengetahuan adalah bagian puncak yang bisa terlihat dari permukaan laut.

Maknanya, keterampilan dan pengetahuan adalah dua elemen kompetensi yang dapat dilihat jelas dan kasat mata. Kita dengan cepat bisa membedakan mana yang terampil dan mana yang tidak.

Kita pun bisa dengan seketika mengenali mana yang berpengetahuan luas dan mana yang tidak.

Sebaliknya, ada bagian gunung es yang tidak dapat kita lihat dari permukaan dan menyimpan banyak misteri. Semakin dalam, semakin penuh tanda tanya, namun justru semakin penting.

Mengapa? Karena bagian di bawah permukaan inilah – terutama bagian dasar - yang menentukan kekuatan dari gunung es tersebut.

Hal yang sama juga berlaku dalam teori kompetensi. Walaupun peran sosial, citra diri, sifat, dan keinginan dasar seseorang tak dapat dikenali secara cepat dan lugas, justru elemen-elemen inilah yang memberikan kontribusi lebih lebih besar pada kesuksesan kinerja seseorang.

Tak heran, orangtua kita sering memberikan nasihat, “Orang yang rajin akan lebih sukses daripada orang pintar”. Rajin adalah sifat, sedangkan pintar merupakan cerminan pengetahuan dan keterampilan seseorang.

Yang menarik, McClelland dan kawan-kawan menempatkan motivasi (keinginan dasar) sebagai elemen fondasi dari bangunan kompetensi.

Secara teoretis, ini berarti motivasi adalah elemen yang paling sulit untuk dikenali, namun sekaligus juga paling penting dan berpengaruh terhadap tindak-tanduk seseorang.

Karena pentas kehidupan laksana panggung sandiwara, kita seringkali sulit membedakan mana pribadi yang mempunyai motivasi mengabdi kepada kepentingan diri sendiri atau melayani keperluan sesama.

Tak heran, pendekatan kompetensi mengajak kita untuk meramalkan perilaku seseorang di masa mendatang, dengan melihat perilakunya di masa lalu.

Visi misi bisa berbunga-bunga dan berubah-ubah, namun motivasi seseorang cenderung sama dari waktu ke waktu.            ◆


Reporter: Tabloid Kontan
Editor: Mesti Sinaga

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 1.5262 || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web = 1.6387

Close [X]
×