kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Selamat datang equity crowdfunding berbasis TI


Selasa, 30 Juli 2019 / 09:05 WIB

Selamat datang equity crowdfunding berbasis TI

Membaca judul artikel ini mungkin ada yang bertanya apa sih equity crowdfunding? Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia juga masih terdengar asing, yaitu layanan urun dana.

Definisi lebih komplet tertuang dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 37/POJK.04/2018. Aturan ini menjelaskan bahwa Layanan Urun Dana Melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi selanjutnya disebut Layanan Urun Dana adalah penyelenggaraan layanan penawaran saham yang dilakukan penerbit (perusahaan yang raising fund) untuk menjual saham secara langsung ke pemodal melalui jaringan sistem elektronik yang terbuka.

Sederhananya, suatu perusahaan penerbit bisa menjual sahamnya kepada masyarakat via on-line dan tanpa dibantu oleh penjamin emisi efek. Perusahaan on-line yang menjual saham ini disebut penyelenggara layanan urun dana atau disingkat penyelenggara.

Sebagai gambaran, peer to peer lending (P2PL) berusaha mempertemukan peminjam dengan pihak yang membutuhkan dana. Per 5 April 2019, ada 106 fintech lending yang terdaftar di OJK.

Namun hingga saat ini belum ada satu pun perusahaan equity crowdfunding berbasis TI yang terdaftar di OJK ataupun mendapatkan izin usaha dari OJK. Jadi, dari sisi persaingan usaha, kemungkinan besar relatif lebih longgar dibanding P2PL. Menarik bukan?

Daya tarik penyelenggara layanan urun dana tak sampai berhenti menjualkan saham perusahaan tanpa penjamin emisi efek dan/atau tanpa melewati prosedur initial public offering (IPO) ke OJK saja. Penyelenggara bisa berfungsi sebagai bursa saham yang memperjualbelikan saham penerbit di pasar secondary.

Ketentuan tersebut tercantum di Pasal 32 Peraturan OJK di atas walaupun dengan batasan perdagangannya antar sesama pemodal yang terdaftar pada penyelenggara. Sebetulnya ini mirip dengan investor saham yang wajib buka rekening di suatu perusahaan efek.

Mungkin timbul pertanyaan, kalau penyelenggara menawarkan melalui on-line berarti yang melihat penawaran tersebut bisa lebih dari 100 pihak dan berpotensi dibeli oleh lebih dari 50 pihak sehingga masuk ke ranah Penawaran Umum yang harus izin ke OJK.

Nah, pasal 5 menjelaskan, penawaran saham oleh penerbit melalui layanan urun dana bukan merupakan penawaran umum sebagaimana dimaksud UU Nomor 8/1995 tentang Pasar Modal. Asalkan, pertama, penawaran saham melalui penyelenggara yang telah memperoleh izin OJK. Kedua, penawaran saham dilakukan dalam jangka waktu paling lama 12 bulan. Ketiga, total dana yang dihimpun maksimal Rp 10 miliar.

Poin terakhir inilah mungkin yang menjadikan concern dari penyelenggara karena nominal raising fund relatif terbatas. Tapi, pada ayat berikutnya masih membuka kesempatan OJK mengubah jumlah tersebut melalui Surat Edaran OJK.

Syarat penerbit yang akan raising fund hanya dapat menawarkan saham melalui satu penyelenggara dalam waktu yang bersamaan. Penerbit juga bukan perusahaan publik dengan jumlah pemegang saham tidak lebih dari 300 pihak dan jumlah modal disetornya tak lebih dari Rp 30 miliar.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0370 || diagnostic_web = 0.2224

Close [X]
×