kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Siklus baru


Senin, 04 Maret 2019 / 15:05 WIB

Siklus baru

KONTAN.CO.ID -  Masih dalam suasana tahun baru, banyak orang  memasuki tahun 2019 ini dalam suasana yang serba tak menentu (uncertain).

Ada perasaan yang bercampur antara satu dan lainnya. Di satu pihak, kita harus optimistis; di lain pihak, kenyataan menuntut kita harus waspada.

Dunia bisnis ingin menggeliat kencang, namun kenyataan pasar sering membuat kita deg-degan. Angka ekonomi makro cukup menggembirakan (inflasi sangat terkendali, suku bunga juga terjaga, nilai tukar rupiah pelan-pelan kembali stabil), namun banyak keluhan muncul dari pelaku ekonomi di tingkat mikro.

Beberapa pelaku  bisnis menyebut suasana “campuran” ini dengan istilah cautiously optimistic alias optimisme penuh kewaspadaan; istilah yang sudah digunakan oleh direktur pengelola IMF, Christine Lagarde, beberapa tahun lalu.

Mengawali tahun baru 2019, seorang CEO memberikan arahan kepada segenap jajaran manajemen perusahaan perihal siasat mengarungi tahun yang tak menentu ini.

Mengutip mahaguru manajemen modern, Peter Drucker, sang CEO bertutur penuh hikmat bahwa di tengah kondisi yang serba VUCA (volatile, uncertain, complex, ambigous), “The best way to predict the future is to create it”.

Alih-alih mengandalkan dukungan eksternal (yang serba tak menentu itu), sang CEO justru lebih menekankan pentingnya membangun kekuatan internal, yang relatif bisa dikelola dan dikendalikan oleh diri kita sendiri.

Sudah menjadi pengertian kita bersama bahwa setiap entitas, entah itu bisnis, organisasi dan juga produk, memiliki siklus hidup. Kita mengenalnya juga dengan sebutan business atau organization atau product life cycle.

Namanya juga “hidup”, sudah menjadi suratan takdir bahwa ada saatnya untuk lahir, bertumbuh, renta dan kemudian mati menutup-mata. Dan lagi-lagi, itu terjadi untuk semua entitas kehidupan, termasuk  organisasi bisnis.

Oleh karenanya, tak mengherankan bila kita melihat perusahaan yang begitu besar dan digdaya, yang dibangun dengan sejarah panjang, bisa tiba-tiba menjadi renta dan lemah, dan akhirnya bangkrut untuk selamanya.

Makanya, bagi sang CEO, salah satu kemampuan internal yang harus dibangun perusahaan (khususnya perusahaan besar) untuk menghindarkan diri dari risiko kematian adalah kemampuan untuk membangun siklus hidup yang baru. Disebut pula sebagai new cycle atau second cycle.

Istilah second cycle sejatinya sudah pernah dipakai oleh Lars Kolind lebih dari sepuluh tahun yang lalu dalam bukunya bertajuk The Second Cyle (2006).

Buku itu tak hanya semata-mata berisi ulasan teoretis dan kerangka konseptual belaka, melainkan berupa refleksi pengalaman langsung sang penulis saat melakukan business turnaround di Oticon, perusahaan manufaktur alat bantu pendengaran (hearing aids) terbesar di dunia.


Reporter: Tabloid Kontan
Editor: Mesti Sinaga

TERBARU
Terpopuler
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 1.5428 || diagnostic_api_kanan = 0.0025 || diagnostic_web = 4.0275

Close [X]
×