kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Struktur modal dan nilai perusahaan


Selasa, 17 September 2019 / 11:05 WIB

Struktur modal dan nilai perusahaan

Bila melihat sejarah perkembangan perusahaan, awalnya struktur modal kerap tidak menjadi perhatian para pemegang saham. Biasanya, ketika baru berdiri, sebuah perusahaan menggunakan dana dari pemegang saham. Kadang-kadang ada utang, tetapi sering kepada pihak terafiliasi.

Ketika perusahaan sudah berkembang dan memenuhi aturan perbankan, baru perusahaan mulai menarik pinjaman dari bank. Beberapa perusahaan menggunakan surat berharga, baik di pasar uang ataupun modal. Sampai satu titik, perusahaan mulai memilih mendapatkan tambahan modal dengan menawarkan saham lewat bursa.

Ada beberapa alasan perusahaan go public. Salah satunya, struktur permodalan dan aset yang tersedia sudah tidak memadai untuk mendapat tambahan utang dari bank atau kreditur. Pada posisi ini sering keluar pertanyaan, bagaimana proporsi ideal struktur modal sebuah perusahaan agar mendapat nilai yang paling optimal?

Bicara struktur modal, maka teori irrelevan yang dikemukakan Modigliani dan Miller (1958) menyebutkan struktur modal sebuah perusahaan tidak relevan menentukan nilai perusahaan. Nilai sebuah perusahaan lebih ditentukan oleh keputusan investasi dan keputusan operasional.

Hal ini terjadi karena asumsi yang digunakan di antaranya tidak ada pajak dan biaya transaksi, baik bagi perusahaan maupun perseorangan. Perusahaan dan individual dapat meminjamkan dan meminjam dana dengan tingkat bunga bebas risiko.

Perusahaan juga diasumsikan hanya dapat menerbitkan dua macam sekuritas, dalam hal ini saham dan risk free debt. Semua investor diasumsikan punya homogeneous expectation terkait aliran laba perusahaan di masa yang akan datang.

Asumsi yang digunakan tersebut banyak dikritik tidak realistis, karena tidak mungkin sebuah perusahaan dapat beroperasi tanpa membayar pajak. Selain itu terdapat selisih suku bunga antara meminjam dan meminjamkan dana.

Tapi teori ini tetap jadi acuan, meski asumsi yang digunakan dianggap tidak realistis. Sebab, teori ini mampu memberi penjelasan yang masuk akal terhadap berbagai variabel yang dianalisa. Dalam perkembangan, teori ini banyak mendapat perubahan asumsi sehingga mampu menjelaskan pengaruh struktur modal pada nilai perusahaan.

Modigliani dan Miller kemudian memasukkan unsur pajak perusahaan ke dalam model penelitian mereka. Hasilnya, komposisi struktur modal atau pemanfaatan utang berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Pertanyaannya, pada komposisi berapa hal itu berpengaruh? Jawabannya tidak masuk akal, karena porsi utang paling ideal adalah 100%. Ini terjadi karena ketika perusahaan berutang, maka timbul biaya bunga. Biaya bunga jadi komponen pengurang pajak.

Selain itu, dengan utang, porsi modal sendiri di perusahaan tetap rendah, sehingga return on equity (ROE) pemegang saham makin tinggi bila perusahaan menghasilkan keuntungan dengan menggunakan modal utang.

Tapi pemanfaatan utang yang terlalu besar punya konsekuensi. Penggunaan utang berlebih membuat perusahaan menghadapi biaya kebangkrutan dan kesulitan keuangan (financial distress).


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi


Close [X]
×