kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Terbiasa dengan bias mental accounting


Rabu, 02 Oktober 2019 / 09:05 WIB

Terbiasa dengan bias mental accounting

Salah satu bias kognitif yang kerap dilakukan investor adalah bias mental accounting atau akuntansi mental. Dinamakan akuntansi karena bias ini berhubungan dengan akun-akun terpisah seperti dalam buku besar akuntansi. Sementara kata mental digunakan karena akun-akun ini adanya bukan secara fisik tetapi dalam pikiran dan subjektif. Bias ini pertama kali diperkenalkan pemenang nobel ekonomi 2017 yaitu Profesor Richard Thaler dari University of Chicago.

Bias akuntansi mental adalah kecenderungan seseorang untuk membuat atau menilai keputusan ekonomi dengan mengelompokkan aset atau sumber uang dalam beberapa akun yang terpisah (non-fungible). Berikut adalah contoh nyata bias ini dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ada dua sumber pendapatan berbeda dari investasi saham yaitu dividen dan capital gain. Apakah investor menganggap keduanya sama? Hampir pasti tidak. Kita cenderung bersedia membelanjakan dividen tetapi tidak rela merealisasikan capital gain dengan menjual sebagian kecil saham kita untuk tujuan yang sama. Investor saham umumnya membuat akun berbeda untuk dividen dan capital gain. Investor mestinya fokus pada yield total dan memandang keduanya fungible (transferrable) atau dapat saling tukar.

Ada dua alasan terjadinya bias akuntansi mental dalam kasus ini. Pertama, investor cenderung tidak mau menyentuh modalnya. Dividen diperlakukan sama seperti pendapatan sewa properti dan portofolio saham sebagai aset propertinya. Kedua, tidak seperti dividen, merealisasikan capital gain untuk dibelanjakan dapat menimbulkan penyesalan di kemudian hari jika harga saham ternyata naik.

Seorang kawan pernah mengalami ini, yaitu merealisasikan capital gain untuk membeli sebuah mobil kijang seharga Rp 250 juta. Tidak beberapa bulan kemudian, dia hanya menyesali keputusannya karena saham yang dijual harganya naik 100%. Dia pun mengumpat dan menganggap nilai mobilnya bukan Rp 250 juta, tetapi Rp 500 juta.

Anda juga mengalami bias ini jika hanya bersedia membeli barang dengan kartu kredit tetapi batal bertransaksi jika harus membayar tunai atau otodebit. Anda membuat akun yang berbeda untuk keduanya. Yang satu akun utang dan lainnya akun kas seperti dalam akuntansi.

Mereka yang memilih mengambil kredit kendaraan bermotor berbunga efektif 18% p.a. (setara dengan 10% flat) atau membayar cicilan minimum 10% untuk tagihan kartu kredit dengan bunga 2,5% per bulan padahal mempunyai saldo yang cukup di tabungan/deposito bank berbunga 6% p.a. adalah yang paling rugi. Mestinya, mereka membeli kendaraan dengan tunai dan melunasi seluruh tagihan kartu kredit dengan uang yang ada. Yang rasional tidak akan bersedia menerima bunga 6% tetapi harus membayar bunga pinjaman 18%-30% pada saat yang sama.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi


Close [X]
×