kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.175
  • SUN95,28 0,00%
  • EMAS663.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.08%
  • RD.CAMPURAN 0.07%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.06%

Titanic yang tinggi hati

oleh Ekuslie Goestiandi - Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Kamis, 10 Januari 2019 / 07:30 WIB

Titanic yang tinggi hati

KONTAN.CO.ID - Saya baru saja menonton ulang film lawas klasik, Titanic, yang  menjadi super box office pada akhir 1990-an. Titanic adalah kapal super mewah yang dirancang para teknisi perkapalan terhebat pada zamannya.

Titanic direkayasa dengan bantuan teknologi mutakhir kala itu, dan pembuatannya menelan biaya jutaan dolar. Dengan gagah perkasa, kapal ini diklaim sebagai the unsinkable ship alias kapal yang tak bisa tenggelam.

Siang hari, Titanic terlihat seperti hotel yang berbintang sebanyak-banyaknya. Pada malam hari, kapal raksasa itu laksana kota apung yang penuh kelap-kelip. Ia menjadi simbol kemegahan dan kemewahan tiada tara.

Secara iseng, saya menyandingkan Titanic denga kapal Nabi Nuh. Kapal Sang Nabi, tak lebih tak kurang, hanyalah kapal biasa yang dibuat sekadarnya oleh tangan-tangan manusia.

Juga dengan bahan kayu yang seadanya pula. Walaupun demikian, karena pesan Ilahi yang diterimanya, Nuh membuatnya dengan sabar, cermat dan penuh hikmat.

Hasilnya? Kapal Nabi Nuh yang terisi penuh dengan anggota keluarga dan segenap hewan, dapat bertahan kokoh menghadapi gejolak badai dan air bah empat puluh hari empat puluh malam.

Bagaimana dengan Titanic? Siapa nyana, dalam awal perjalanannya, Titanic sudah harus kandas membentur gunung es akibat amukan badai.

Titanic dibuat dengan semangat pamer dan unjuk kegagahan, sementara kapal Nabi Nuh dikerjakan dengan kesahajaan dan rasa tahu diri.

Berlawanan dengan pepatah kuno yang berbunyi kegagalan adalah awal dari kesuksesan, Robert Kuok, hartawan Asia pemilik jaringan hotel Shangri-La, justru berpendapat sebaliknya.

Kata Robert, seringkali kesuksesan justru melahirkan kegagalan, karena kesuksesan membuat seseorang  pada situasi yang arogan, berpuas diri, sembrono dan pada gilirannya menjadi tak cermat.

Mirip seperti apa yang dialami oleh Titanic, yang berpuas diri dan “jatuh cinta” pada kemegahannya sendiri. Akibatnya, lalai mengantisipasi dan mengatasi hantaman badai dalam perjalanan.


TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0080 || diagnostic_api_kanan = 0.5063 || diagnostic_web = 3.3029

Close [X]
×