kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Yin yang


Jumat, 11 Januari 2019 / 08:00 WIB
Yin yang

Reporter: Tabloid Kontan | Editor: Mesti Sinaga

KONTAN.CO.ID -  Beberapa minggu yang lalu, Kompas Gramedia (KG Media) meluncurkan iklan visual di televisi. Dengan tag line berbunyi trusted, connected, iklan itu menggambarkan perpaduan dan kebersamaan dari satu pasangan.

Beberapa figur pasangan yang muncul antara lain adalah duet proklamator Soekarno–Hatta, suami istri Habibie–Ainun, pemain bulutangkis Tontowi–Liliyana (Owi–Butet), pasangan penyanyi Endah–Rheza, dan mitra sutradara Mira Lesmana–Riri Riza.

Di ujung video tersebut, dihadirkan dua sosok yang telah membangun dan membesarkan kelompok usaha Kompas Gramedia, yakni PK Ojong dan Jakob Oetama, dengan disertai kalimat we know it takes two... to make formidable partners.

Guru saya pernah berujar bahwa dunia itu terlalu luas untuk diurus seorang diri. Banyak persoalan kehidupan, entah itu di aras publik, organisasi, dan bahkan juga rumahtangga, yang tak dapat diselesaikan hanya oleh seorang pribadi; sejenius apa pun dia!

Warren Bennis, legenda pemikir bidang kepemimpinan, dalam bukunya bertajuk Organizing Genius (1997), sangat menyadari hal ini, dan oleh karenanya menempatkan wacana kelompok yang hebat (great group) melampaui individu yang hebat (great man).

Bennis percaya, hanya dengan kekuatan kolektif, kita dapat menyelesaikan persoalan-persoalan besar dan membawa peradaban manusia kepada kemajuan.

Buktinya, sosok-sosok yang muncul dalam tayangan iklan KG Media di atas berhasil menghadirkan pencapaian besar karena ada dua pihak yang membangun formidable partnership alias kemitraan yang hebat.

Namun, kepemimpinan yang bersifat kolektif, sering juga disebut co-leadership, bukanlah perkara yang gampang dijalankan.

Alasannya sederhana saja. Seorang pemimpin (yang merasa dirinya hebat) seringkali membawa serta ego yang besar di dalam dirinya. Ego yang besar ini, tanpa disadari, menuntun seseorang untuk berkompetisi dan mengakumulasi kekuasaan atas orang lain.

Ego yang besar seringkali menggiring seseorang untuk mengejar kejayaan diri sendiri, bahkan acapkali melampaui kepentingan organisasi.

Dalam kajian psikologi, ada perbedaan mendasar antara ego yang besar (big ego) dan ego yang kuat (strong ego).

Big ego cenderung kaku dan ingin selalu memegang kendali atas orang lain, sementara strong ego terbuka dan menghargai orang lain.

Big ego cenderung haus perhatian dan pengakuan dari orang lain, sementara strong ego justru mampu memberikan perhatian dan respek kepada orang lain.

Dalam bukunya berjudul Madison and Jefferson (2010), profesor sejarah Andrew Burstein dan Nancy Isenberg melukiskan perpaduan kepemimpinan dua tokoh nasional Amerika, yakni Thomas Jefferson dan James Madison. Masing-masing adalah presiden ketiga dan keempat negara Paman Sam, yang memiliki karakter pribadi dan gaya kepemimpinan yang sangat berbeda.



TERBARU

×