: WIB    —   
indikator  I  

Membangun jembatan

Membangun jembatan
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Sekali lagi, teknologi media sosial yang semestinya menjadi sarana komunikasi antar-manusia lintas geografi, generasi, dan juga ideologi, dalam perkembangannya justru bergerak sebaliknya.

Alih-alih menjadi “jembatan penghubung”, media sosial justru beralih menjadi “tembok pembelah” yang memecah persaudaraan antar-manusia.

Begitu mudah kita menemukan kandungan (content) berisi klaim kebenaran yang absolut. Untuk satu fenomena yang sama, semua pihak bisa melakukan tafsir menurut ajaran dan ideologinya sendiri-sendiri.

Menariknya, masing-masing pihak merasa benar dengan hasil tafsirnya, dengan tak lupa mengajukan pembelaan argumentasi yang dianggap kuat.

Dalam ilmu logika, kita diajarkan bahwa kebenaran bersifat tunggal. Jika satu ditambah satu adalah dua, maka yang menjawab selain dua sudah pasti salah adanya.

Dengan demikian, jika menggeluti satu persoalan yang sama, ada dua pihak mengklaim dirinya sama-sama benar, maka jelas itu fenomena di luar logika.

Kebenaran ganda seperti ini jelas tidak logis. Namun, walaupun tak logis, hal seperti ini jelas bersifat psikologis.

Jika kebenaran logis bersifat tunggal dan mutlak, maka kebenaran psikologis bersifat relatif dan dapat didiskusikan. Klaim kebenaran psikologis seperti inilah yang telah membuat relasi antar-sesama anak bangsa menjadi bergeser.


Close [X]