: WIB    —   
indikator  I  

Elastisitas peradaban

Elastisitas peradaban
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Saat ini, kita hidup dalam dunia yang bergerak cepat, bahkan sangat cepat! Semua manusia dan pihak di muka bumi menjadi saling terkoneksi, yang mengakibatkan banyak perubahan di ranah teknologi, politik, sosial, demografi dan ekonomi terjadi secara simultan dan siap mengguncang dunia dengan seketika.

Para pakar menyebut periode ini sebagai era Industri 4.0, yang saat ini menjadi salah-satu buzzword paling hits di kalangan praktisi bisnis.

Istilah Industri 4.0 digunakan untuk menggambarkan praksis industri pada awal dekade ini. Kanselir Jerman Angela Merkel, dalam pertemuan World Economic Forum 2015, menjelaskan bahwa Industri 4.0 lahir dari integrasi teknologi digital dan produksi industri.

Secara sederhana, mari bayangkan sebuah pabrik pintar (smart-factory) yang berisikan mesin-mesin dan robot-robot yang sanggup mengerjakan tugas-tugas rumit, saling bertukar informasi dan memberi/ menerima perintah secara otomatis, tanpa melibatkan makhluk bernama manusia!

Semua proses produksi berjalan dengan internet sebagai penopang utama. Seluruh fasilitas dan sarana pabrik dilengkapi dengan artificial-intelligence, yang mampu mengoperasikan dirinya lewat sistem teknologi informasi dan algoritma pengolahan data yang sangat complicated.

Angka 4.0 di atas pada dasarnya menilik kepada tahapan revolusi industri yang keempat. Revolusi industri pertama terjadi pada abad 18, saat ditemukannya mesin-mesin bertenaga uap yang memungkinkan manusia beralih dari pemanfaatan tenaga hewan ke mesin-mesin produksi mekanis.

Revolusi industri kedua berlangsung pada abad 19, tatkala dunia perindustrian beralih ke tenaga listrik yang mampu menciptakan produk secara massal. Sementara, revolusi industri ketiga terjadi pada abad 20, saat perangkat elektronik mampu menghadirkan otomatisasi proses produksi.

Kini di abad 21, kita mulai memasuki revolusi industri keempat yang masih berjalan dan terus berkembang dengan hamparan kemungkinan yang sangat terbuka.

Perkembangan teknologi, sebagai bagian dari evolusi peradaban, selalu mendatangkan potensi persoalan etis.

Para pakar sudah mengidentifikasi beberapa kemungkinan buruk yang muncul sebagai dampak dari perkembangan Industri 4.0, antara lain peningkatan pengangguran akibat robotisasi pekerjaan, kesenjangan penghasilan akibat disparitas penguasaan teknologi, penyebaran informasi (termasuk berita palsu dan ujaran kebencian) yang tak terkendali dan sebagainya.

Bahkan, baru-baru ini pendiri sekaligus CEO perusahaan Tesla dan SpaceX, Elon Musk, menganggap bahwa teknologi digital, khususnya artificial intelligence, bisa berpotensi menjadi ancaman terbesar umat manusia.


Close [X]