kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.874
  • LQ45927,53   -15,89   -1.68%
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS609.032 -0,82%

Pikiran yang terbuka

Pikiran yang terbuka
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Seorang teman mengeluhkan postur tubuhnya yang bongsor, namun agak menggelayut. Selain tak enak dilihat, ia juga mulai merasakan dampaknya terhadap kebugaran fisik.

Berbagai risiko kesehatan, dari urusan kolesterol yang tinggi, gula darah yang melewati batas, dan penyakit degeneratif lain mengintip.

Cukup sering dia mengeluhkan leher yang pegal atau badan gampang lemas. Pada saat tertentu, ia menyadari bahwa kondisi berat badannya sudah pada tahapan “siaga 2”, yang berarti alarm peringatan serius..

Berangkat dari kesadaran tersebut, beberapa kali sudah ia membangun tekad untuk berolahraga dan melakukan diet. Ia sadar sesadar-sadarnya bahwa itu adalah cara terbaik (kalau bukan satu-satunya cara) untuk meningkatkan kesehatan tubuh.

Dengan gagah berani ia mengumpulkan niat, dengan percaya diri juga ia membatalkan agenda olahraganya. Dengan semangat ia mempersiapkan rencana diet, dengan santai pula ia melupakannya. Ringkas cerita, ia tak bisa berhasil mengayunkan langkah perubahan yang nyata.

Menyimak kisah sang teman, saya teringat cerita tentang 20 ekor kodok yang bertengger di bibir kolam.

Pembaca, bila Anda dihadapkan dengan pertanyaan, “Jika 17 dari 20 ekor kodok tersebut memutuskan untuk meloncat ke dalam kolam, berapa ekor kah yang tersisa bercokol di pinggir kolam?”.

Secara matematis, kita akan cenderung menjawab 3 ekor, karena itulah hasil pengurangan dari 20-17.

Namun, apa yang terjadi? Ternyata, masih ada 20 ekor kodok yang berada di bibir kolam. Lho, kok bisa? Ya bisa, karena ke 17 ekor kodok tersebut baru “memutuskan” untuk terjun ke kolam, tapi mereka sama sekali belum “melakukan”nya.

Sang kodok tak hanya sudah membangun niat, tapi bahkan sudah memutuskan untuk melompat ke dalam kolam. Namun, apa daya, walaupun sudah diputuskan, ternyata ia tak mampu melakukannya.

Cerita sang kodok ini membuat saya memaklumi “kegagalan” teman di atas untuk mulai berolahraga dan menjalani diet.

Jika sang teman baru mencapai tahapan “membangun niat”, si kodok bahkan sudah sampai pada tahapan “mengambil keputusan”. Itu pun tak berhasil membuatnya untuk melangkah dan mengambil tindakan.

Berhadapan dengan kenyataan ini, umumnya kita akan menuding ketidakteguhan motivasi sebagai biang kerok kegagalan perubahan.

Motivasi yang tak kuat itu muncul bisa dikarenakan ketiadaan sense of urgency (perasaan kegentingan), kurangnya insentif, dan juga sikap pribadi yang tak disiplin.