kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.862
  • LQ45912,28   -1,69   -0.18%
  • SUN90,98 -0,39%
  • EMAS610.040 0,50%

Inter-being

Inter-being
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Seorang filantropis senior pernah mengajukan pertanyaan yang menggelitik saya. Begini katanya, “Saat melihat seorang anak yang mengetuk kaca jendela mobil kita sambil meminta uang recehan, apakah kita ikut bertanggungjawab?”

Demikian juga, “Saat melihat seorang ibu sederhana yang setiap hari bekerja memotong rumput di rumah besar majikan, namun tak kunjung bisa memperbaiki kehidupan ekonominya, apakah kita juga perlu memikirkannya?”

Atas pertanyaan tersebut, sekilas mungkin kita akan menjawab bahwa, “Ya..., memang demikian nasib kehidupan seseorang.

Ada yang bernasib baik, ada juga yang tidak beruntung. Ada yang dikaruniai hidup yang senang dan berkelimpahan, ada yang ditakdirkan hidup susah dan berkekurangan.”

Bukankah kita sering diingatkan bahwa hakekat kehidupan manusia itu individualistik? Artinya, setiap orang mempunyai kisah, perjuangan, kesulitan, pencapaian dan nasibnya masing-masing, yang berbeda antara yang satu dengan lainnya.

Dengan demikian, jalanilah garis hidupnya sendiri-sendiri, tanpa perlu memikirkan lingkungan dan orang-orang yang ada di sekitar.

Sepanjang tidak saling merugikan orang lain, itu sudah cukup!

Sang filantropis senior di atas pun mengakui bahwa tatkala masih muda, beliau juga berpikir seperti layaknya kebanyakan orang. “Hidupku adalah hidupku, dan hidupmu adalah hidupmu. Kita jalani bersama-sama sebaik-baiknya. Semaksimal mungkin, tak saling mengganggu”.

Namun, dengan bertambahnya usia, ia mengakui bahwa hidup manusia tak semestinya bersifat individualistik.

“Sedikit banyak, kita pun musti ikut bertanggungjawab dan ambil bagian dalam kehidupan si anak miskin yang mengetuk kaca jendela mobil dan juga si ibu sederhana pemotong rumput yang tak kunjung bisa hidup cukup,” kata dia.

Cerita di atas mengingatkan saya pada konsepsi inter-being yang digagas oleh mahaguru Zen-Buddhism dunia, Thich Nhat Hanh.

Konsepsi inter-being di sini dimaksudkan sebagai keterhubungan antara satu makhluk dengan makhluk lainnya, termasuk juga antara manusia yang satu dengan yang lainnya.

Nhat Hanh mengamini studi yang dilakukan oleh ahli biologi Lewis Thomas. Studi Thomas menyimpulkan bahwa tubuh manusia pada dasarnya “dihuni dan dipenuhi” oleh organisme-organisme kecil “non-manusia” yang jumlahnya tak terhingga.

Tanpa organisme-organisme tersebut, manusia tak dapat menggerakkan otot, menjentikkan jari, dan juga mengolah pikiran.