kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.473
  • LQ45925,17   4,21   0.46%
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS600.960 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Purpose

Purpose
Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Kehidupan kita seperti buku. Judul buku adalah nama kita. Daftar isi adalah perjalanan-perjalanan hidup penting yang kita lewati.

Kata pengantar adalah perkenalan diri kita pertama kali kepada dunia. Halaman-halaman selanjutnya adalah catatan sehari-hari dari kegiatan, usaha, kerja keras, kesuksesan, kegembiraan, kegagalan, keputusasaan, juga tawa dan tangis.

Hari demi hari, jam demi jam, bahkan terkadang menit per menit, peristiwa hidup kita dicatat dalam buku tersebut.

Tatkala sampai di halaman terakhir, biarlah kita dapat menuliskan kata “tamat” dengan penuh syukur dan senyum, karena sudah menjalani hidup dengan sepenuh-penuhnya dan juga memenangi segenap pergulatan di dalamnya dengan sebaik-baiknya.

Begitu pula, orang-orang yang membacanya akan berkata bahwa ini adalah buku tentang kehidupan seorang manusia yang luar biasa, sarat makna dan penuh pencerahan. Sebuah kehidupan yang sungguh bermakna (a meaningful life).

Kalimat di atas (yang saya peroleh dari seorang sahabat diskusi) sungguh inspiratif, walaupun menyisakan pertanyaan bagaimana cara menulis buku kehidupan seperti itu?

Pembaca, ada sebuah kisah menarik. Seorang anak muda berhenti di perempatan jalan.

Ia bertanya kepada seorang tua di dekatnya, ”Ke mana jalan ini akan membawa saya?” Si orang tua balik bertanya, ”Ke mana kamu akan pergi, anak muda?” Si pemuda menjawab, ”Saya tidak tahu.”

Lalu si orang tua berkata, ”Kalau begitu, ambil jalan yang mana saja, toh tidak ada bedanya bagimu, kan?”

Inilah kebenarannya. Jika kita tidak tahu ke mana hendak pergi, maka jalan manapun yang dipilih menjadi tidak relevan.

Stephen Covey dalam buku larisnya, 7 Habits of Highly Effective People (1989), menyebutkan bahwa manusia yang efektif memiliki kebiasaan begin with the end in mind, yang berarti memulai dengan pengertian yang jelas tentang tujuan akhir.

Dengan kata lain, kita harus tahu ke mana kita akan pergi, sehingga bisa menentukan pilihan jalan yang tepat, yang akan mengantar kita kepada tujuan.

Covey percaya bahwa pada dasarnya penciptaan secara fisik (physical creation) yang efektif diawali dengan penciptaan secara mental (mental creation) terlebih dahulu.

Sebagai ilustrasi, ketika kita ingin membangun rumah, maka “gambaran” mengenai bentuk rumah tersebut terjadi terlebih dahulu dalam mental (imajinasi) kita.

Kita membayangkan letak kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, dapur, meja makan, televisi, dan sebagainya. Semua bayangan itu terjadi sebelum kita mulai membangun secara fisik.

Jika kita tidak melakukannya, sangat mungkin proses pembangunan fisik rumah tak akan berjalan baik.

Ada banyak bongkar pasang yang sangat tidak efisien, bahkan juga hasil akhir yang sama sekali berbeda dengan harapan.

Hal yang sama juga berlaku untuk perkara a meaningful life. Sebelum mewujudkan kehidupan pribadi secara nyata (penciptaan fisik), kita juga perlu menuliskan naskah meaningful-life di dalam pikiran kita (penciptaan mental).

Semakin spesifik kita bisa menuliskan naskah meaningful-life pribadi, semakin kuat pula pikiran kita akan mewujudkannya.

Jika saat ini bayangan kebermaknaan itu masih kabur, sebaiknya berhenti sejenak untuk memikirkan dan merumuskannya secara jelas.

Mengapa? Karena, kita tak akan bisa mantap menempuh sebuah perjalanan hidup dengan bekal pandangan yang kabur dan pikiran tak tentu arah.