kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.900
  • LQ45926,61   -1,39   -0.15%
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS612.058 0,50%

Pemimpin itu membaur

Pemimpin itu membaur
Praktisi di korporat, pengajar

Bulan depan kita akan menjalani ajang pemilihan kepala daerah, dan tahun depan akan ada hajatan pemilihan presiden dan anggota legislatif.

Sekarang ini, para kandidat yang merasa dirinya pantas menjadi pemimpin-pemimpin Indonesia di masa depan, sudah giat mengkampanyekan dirinya.

Partai politik dan kelompok pendukung juga tak ragu mengelus jagoannya masing-masing, menjual “kecap nomor satu”.

Suka tidak suka, lebih banyak orang yang melihat posisi kepemimpinan sebagai sebuah peluang, daripada amanah.

Sebagai peluang, kepemimpinan harus diperjuangkan dan diperebutkan, bahkan terkadang dengan mengorbankan nilai moral dan aturan hukum yang berlaku.

Bermacam siasat ditempuh, agar dapat tampil sebagai pemenang. Demikian pula, slogan dan janji-janji kampanye bertebaran sana sini laksana balon busa yang terbang ke sana ke mari.

Demi meraih tampuk kepemimpinan, orang rela dan tega melakukan hal apapun, dengan cara apapun, bahkan harus mengorbankan seseorang sekalipun.

Namun, sebenarnya siapakah sang pemimpin itu?

Ini pertanyaan yang sangat sederhana, sekaligus juga paling mendasar dalam ilmu manajemen dan kepemimpinan.

Setiap buku tentunya memiliki definisi dan kriteria yang berbeda-beda. Dengan demikian jawaban terhadap pertanyaan tersebut, sangat tergantung kepada buku yang kita baca.

Kajian berikut ini tak bermaksud untuk membedah, apalagi mengonfrontasikan berbagai definisi kepemimpinan yang dirumuskan oleh para pakar.

Namun, sebelum menelaah lebih lanjut praksis-praksis kepemimpinan, kita perlu merenungkan secara mendalam esensi kepemimpinan; perkara yang jauh lebih penting dari urusan motif, praktik dan gaya kepemimpinan.

Sejatinya, sejarah mencatat begitu banyak cerita gelap tentang para pemimpin yang dianggap sukses pada awalnya, namun berujung tragis pada akhir masa kepemimpinannya.